Kemarin, waktu diminta untuk sharing, saya sempat bertanya juga dalam hati, “Sebenarnya mengapa saya bisa hadir di sini?” Setelah merenung, saya merasa bahwa semua hal yang terjadi pasti bisa menjadi sesuatu yang baik.
Kalau saya melihat kembali ke belakang, ada satu periode dalam hidup saya ketika saya merasa sangat down. Sebenarnya saya bersyukur karena keluarga saya sangat baik. Saya dibesarkan dalam keluarga yang baik. Pendidikan dan karier saya juga cukup baik. Pada masa itu belum menjadi seorang istri, pacar saya juga sangat baik serta sangat suportif. Tetapi entah mengapa, di masa itu saya merasa sangat hampa. Saat sedang bekerja, saya sering bertanya dalam hati, “Sebenarnya saya sedang melakukan apa?”
Untungnya, pada masa itu saya mendapatkan dukungan yang sangat baik dari keluarga dan orang-orang terdekat. Saya kemudian mengikuti sebuah retret. Melalui retret itu, saya kembali diingatkan untuk mensyukuri apa yang sudah ada dan untuk menguatkan kembali nilai-nilai yang sudah diajarkan sejak kecil.
Sejak saat itu, sampai beberapa waktu belakangan ini, saya merasa hidup saya cukup tenang. Namun, tetap ada hal-hal kecil yang tidak saya mengerti. Seperti ada sesuatu yang kosong, tetapi saya sendiri tidak tahu apa.
Kebetulan, kakak saya tiba-tiba terpikir untuk mengikuti Tapa Brata lebih dulu. Dia mengikutinya saat sedang hamil beberapa bulan yang lalu. Setelah pulang, dia bercerita kepada saya. Dia hanya berkata, “Bagus, Wil. Ayo ikut. Ikut, ya.” Waktu itu saya masih berpikir, “Aduh, nanti pekerjaan bagaimana? Lagi masa-masa sibuk.”
Kemudian, beberapa bulan setelahnya, kakak saya ikut untuk kedua kalinya. Setelah pulang, dia kembali menelepon saya dan berkata, “Cepat, Wil. Ikut. Bagus, deh. Pokoknya bagus.” Dari situ saya mulai berpikir untuk mencoba, walaupun di dalam hati saya masih bertanya, “Kenapa ya saya harus ikut? Rasanya saya baik-baik saja.”
Setelah saya renungkan, saya merasa tidak ada salahnya untuk ikut. Kebetulan saya sudah cukup lama mengetahui Bali Usada, meskipun saya tidak ingat dari mana pertama kali mengetahuinya. Saya hanya merasa bahwa sebuah retret biasanya pasti baik untuk diri sendiri. Jadi saya berpikir, “Baiklah, saya ingin ikut.”
Kebetulan jadwal juga mendukung. Saya kemudian bertanya kepada istri saya, “Mau ikut tidak?” Saya berkata, “Kayaknya aku ingin ikut. Kalau mau ikut, ayo kita ikut sama-sama.” Ia juga sangat suportif dan akhirnya mau ikut bersama saya. Walaupun kami semua memiliki tekanan masing-masing, beliau tetap mendukung. Akhirnya saya pun hadir di sini.
Saat pertama kali datang, bayangan saya tentang meditasi adalah sesuatu yang keren. Saya membayangkan orang yang meditasi itu memiliki pikiran yang kuat dan kokoh. Apalagi saat itu saya juga sedang menghadapi tekanan pekerjaan dan ekspektasi terhadap diri sendiri. Saya berpikir, mungkin setelah tujuh hari meditasi, walaupun hanya duduk diam dan tidak melakukan apa-apa, pikiran saya bisa menjadi lebih segar.
Namun, ternyata apa yang saya alami sama sekali berbeda dari bayangan saya. Hari pertama dan hari kedua, badan saya luar biasa remuk. Punggung sakit, kepala sakit, kaki sakit, kesemutan, bahkan sampai mati rasa. Tetapi untungnya, semua itu pelan-pelan tetap saya jalani. Lama-kelamaan, rasa sakit itu mulai terasa lebih baik. Walaupun tubuh masih sakit, ada juga rasa enak dan tenang yang muncul di dalam pikiran.
Ada satu pengalaman pribadi yang cukup berkesan bagi saya. Kalau tidak salah, itu terjadi sekitar hari keempat, pada awal sesi penyembuhan. Selama tiga hari sebelumnya, badan saya terasa sakit semua. Kepala berat, kaki mati rasa, dan seluruh tubuh terasa tidak nyaman. Di hari keempat, dalam salah satu sesi setelah makan siang, saya merasa punggung saya sangat sakit.
Awalnya saya mengira mungkin ini karena posisi duduk saya kurang baik. Saya tidak terlalu memikirkan lebih jauh, hanya terus mencoba menjalani, merasakan, dan memberikan perhatian pada rasa sakit itu. Sampai di hari kelima, saya merasa tidak tahan. Saya sempat bertanya kepada Ibu Ati, apakah ada yang salah dengan posisi duduk saya, karena rasa sakit itu baru terasa semakin kuat belakangan.
Jawaban beliau kurang lebih bahwa posisi duduk memang bisa memengaruhi, tetapi saya juga diminta untuk tetap memberikan perhatian dan rasa yang baik pada bagian yang sakit itu. Mungkin ada sesuatu di sana, kita tidak tahu. Setelah mendapat anjuran itu, saya kembali melanjutkan meditasi.
Tiba-tiba muncul sebuah pikiran tentang punggung. Saya teringat bahwa kita sering mendengar, terutama sebagai laki-laki ketika sudah dewasa, kita harus bisa memikul beban. Kita harus sanggup memimpin keluarga, bekerja dengan baik, dan menjalankan banyak tanggung jawab. Dari situ saya bertanya dalam hati, “Apa mungkin ini yang sedang saya rasakan?”
Lalu saya mencoba mendalaminya sedikit. Muncul lagi satu pikiran yang menurut saya agak menarik. Saya teringat pada ajaran-ajaran baik yang saya terima sejak kecil. Seperti gambaran seorang ayah yang sedang memeluk anaknya, memeluk istrinya, dan melindungi keluarganya sambil tersenyum. Keluarganya juga tersenyum. Tetapi ketika gambaran itu seperti diperbesar, punggung sang ayah terlihat terluka, seolah-olah ia melindungi keluarganya dari belakang.
Ketika gambaran itu muncul, saya merasa, “Oh, mungkin ini dia.” Mungkin inilah salah satu alasan mengapa rasa sakit itu muncul di punggung saya. Kebetulan saya juga baru menikah dan istri saya baru pindah bersama saya. Kami sedang berada dalam masa yang cukup penuh perjuangan. Dari luar, semuanya mungkin terlihat indah dan baik-baik saja. Tetapi di dalamnya, saya sendiri tahu bahwa ada bagian yang terasa tidak kuat.
Di awal, saya masih berusaha menguatkan diri. Saya berkata dalam hati, “Ini semua tidak kekal. Ini semua pasti berlalu. Kuatkan saja. Terima saja.” Namun, rasa itu tetap ada.
Kemudian, kalau tidak salah di hari keenam, pada salah satu sesi pagi, saya masih merasakan punggung saya sakit. Badan juga masih terasa sakit dan remuk. Namun, di penghujung meditasi, tiba-tiba muncul sebuah pikiran. Saya merasa kalau istri saya mendengar pikiran ini, dia pasti akan menegur saya dan berkata, “You’re not alone.”
Saat itu saya langsung tersadar. Benar juga. Memang sebagai laki-laki, ada tanggung jawab untuk memimpin dan menjadi kuat. Itu tidak salah. Tetapi hidup ini juga dijalani berdua. Kami juga bisa berusaha bersama-sama. Saya tidak harus memikul semuanya sendirian.
Setelah itu, saya kembali teringat bahwa dukungan bisa datang dari banyak tempat. Dukungan bisa datang dari pasangan, dari masyarakat, dari orang-orang sekitar, dan dari para instruktur di sini yang luar biasa mendukung. Sejak menyadari hal itu, saya merasa jauh lebih tenang. Tubuh saya juga terasa lebih segar.
Satu hal yang menjadi harapan saya setelah mengikuti proses ini adalah saya semakin memahami bahwa energi baik dan cinta kasih bisa menyembuhkan. Kalau cinta kasih bisa menyembuhkan diri kita, maka alangkah baiknya kalau kita juga bisa memberikannya kepada keluarga. Dalam hati, saya merasa ingin bisa seperti itu, memberikan cinta kasih dengan tulus, tanpa mengharapkan hal-hal lain.
Besar harapan saya, semakin saya menjalani proses ini pelan-pelan, tujuan hidup saya juga semakin bisa tercapai. Terima kasih.