Testimoni Ibnu

Ketika Pikiran Penuh, Hidup Terasa Berhenti

Saya Ibnu dari Surabaya. Awal mula saya datang ke sini karena saya merasa sulit sekali untuk fokus, terutama dalam pekerjaan. Saya masuk kantor dan absen seperti biasa, tetapi di sana pikiran saya terus berjalan tanpa ada eksekusi. Hal itu terjadi bukan hanya satu atau dua hari, tetapi sampai berbulan-bulan.

Saya juga memiliki mentor bisnis dan sedang mencoba menguji beberapa hal untuk bisnis saya. Namun, ternyata saya tetap tidak ada progress. Walaupun sudah mengikuti berbagai program dan mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk mengembangkan bisnis, saya tetap merasa kesulitan. Saya kemudian menyadari bahwa perjuangan terbesar saya ternyata ada di pikiran. Ketika pikiran saya penuh, saya tidak bisa melakukan aktivitas kerja dengan baik.

Lalu saya berpikir, mungkin saya perlu mencoba sesuatu yang berbeda. Saya sudah beberapa kali mencoba mencari bantuan, tetapi rasanya belum menemukan sesuatu yang benar-benar cocok untuk emosi dan pikiran saya. Ketika saya mencoba mengendalikan diri, masih banyak emosi yang muncul. Saya merasa disalahpahami oleh orang-orang, merasa sendirian, merasa marah, dan sulit menikmati hidup. Banyak sekali emosi yang terasa bercampur di dalam diri saya.

Akhirnya saya mencoba mencari cara baru. Saya sempat bertanya kepada atasan saya, “Kalau saya meditasi bagaimana ya?” Beliau kemudian menyarankan saya untuk mencoba Tapa Brata. Dari situ saya mencari informasi di Instagram, lalu menemukan Bali Usada. Setelah melihat informasinya, saya memutuskan untuk mendaftar.

Sebenarnya saya memang sangat ingin mengikuti program ini, karena saya ingin sembuh dan ingin bisa beraktivitas dengan normal lagi. Saya ingin bisa kembali bekerja dengan baik. Kondisi sudah berlangsung cukup lama. Walaupun sudah membaik dan saya juga sudah cukup lama menjalani pengobatan, saya masih sangat kesulitan untuk kembali menjalani aktivitas kerja secara utuh.

Menariknya, menjelang keberangkatan untuk mengikuti Tapa Brata, ada beberapa kejadian yang terasa aneh dan justru semakin memotivasi saya. Di rumah, saya merasa ada gangguan-gangguan yang membuat emosi saya semakin kuat. Saya sempat berpikir seperti ada sesuatu yang terjadi. Dari situ saya semakin termotivasi untuk benar-benar fokus selama mengikuti sesi ini, agar saya bisa mendapatkan sesuatu yang bermanfaat.

Saya merasa beruntung bisa mengikuti kelas ini. Saat saya memperhatikan napas dalam meditasi, ternyata saya merasakan banyak emosi yang muncul. Saya menyadari bahwa saya memiliki kecenderungan untuk terlalu mengendalikan napas. Dari situ saya melihat bahwa saya juga sering terlalu mengendalikan banyak hal dalam hidup.

Saya kemudian menyadari bahwa saya masih sulit menerima dan mencintai diri sendiri. Saya berusaha memperbaiki kecenderungan saya yang terlalu mengontrol, tetapi ternyata di balik itu ada bagian dari diri saya yang belum bisa saya terima. Saya merasa kurang menerima kasih dan selama sesi ini saya juga sempat merasakan kemarahan.

Ada satu pengalaman dalam salah satu sesi, tiba-tiba muncul rasa marah. Saya sempat bertanya dalam hati, “Saya marah atas apa?” Ternyata rasa marah itu memang ada di dalam diri saya dan muncul begitu saja untuk saya sadari.

Selain kemarahan, saya juga menemukan perasaan cinta dan diterima. Saat istirahat, saya melihat beberapa teman sedang berada di taman. Saat itu sesi Tapa Brata sudah selesai, sehingga kami sudah boleh berbicara. Akhirnya saya memberanikan diri untuk bergabung.

Ternyata ketika saya duduk bersama mereka, saya merasa nyaman. Rasanya enak sekali bisa hadir bersama orang lain dan merasa diterima. Dari situ saya menyadari bahwa perasaan diterima itu sangat penting bagi saya. 

Saya juga merasa beruntung pada hari ketiga, ketika pertama kali Pak Merta Ada hadir melalui Zoom. Dari sesi itu saya mendapatkan sesuatu yang penting. Ketika Beliau menyampaikan tentang apa yang perlu dilakukan selanjutnya, saya tiba-tiba merasakan sesuatu yang kuat. Rasanya seperti ada perasaan cinta kasih yang sangat penuh. Itu adalah pertama kalinya saya merasakan hal seperti itu.

Setelah itu, dalam beberapa sesi berikutnya, saya mencoba kembali menyentuh perasaan cinta kasih tersebut. Namun, saya juga menyadari bahwa saya mulai ingin mengejar pengalaman yang sama seperti sebelumnya. Saya seperti ingin kenangan itu hadir lagi. Lalu saya teringat tentang Anicca, bahwa pengalaman bisa berubah-ubah. Perasaan cinta kasih bisa hadir dalam bentuk yang berbeda-beda setiap waktu. 

Hal lain yang juga cukup berkesan adalah saat Tapa Brata selesai dan saya membuka handphone, ternyata orang tua saya mencari saya. Seketika banyak pikiran muncul. Saya membayangkan berbagai pertanyaan dan komentar dari mereka, seperti, “Kamu ngapain ke sana? Bagaimana pekerjaanmu?” Pikiran-pikiran itu membuat perasaan takut muncul kembali.

Namun, saya kemudian teringat salah satu ceramah tentang orang tua dan kasih keluarga. Dari sana saya mendapatkan sudut pandang baru. Saya mulai memahami bahwa apa yang dilakukan orang tua saya sebenarnya juga berasal dari niat baik. 

Setelah menyadari hal itu, saya merasa memiliki harapan baru. Sebelum menghubungi orang tua, saya mencoba menyadari perasaan yang muncul dan mengingat Anicca. Saya merasa mendapatkan cara untuk mulai kembali menjalani aktivitas sehari-hari, baik dalam pekerjaan maupun dalam hubungan dengan orang tua. Apalagi saya bekerja dalam family business, sehingga saya memang akan terus bersinggungan dengan keluarga dan aturan-aturan yang ada.

Terima kasih untuk teman-teman yang hadir di sini. Kehadiran kalian sangat membantu saya memahami emosi-emosi yang saya butuhkan, baik untuk mendukung meditasi maupun untuk memahami diri saya sendiri. Terima kasih.

Program & Kelas

Jadwal Kegiatan

Program & Kelas

Program Meditasi