Testimoni Eri

Tidak Semua Harus Diikat, Belajar untuk Melepaskan

Nama saya Eri, tinggal di Bogor. Saya seorang ibu dari dua anak yang sudah dewasa dan sekarang sudah punya satu cucu.

Anicca, anicca. Semua yang berkondisi bisa berubah. Tidak kekal. Jadi, kalau sesuatu itu tidak kekal, jangan terlalu diikat. Lepaskan saja. Daripada membuat deposit negatif di tubuh kita. Itu salah satu kalimat kuat yang paling saya ingat dari meditasi kesehatan dan ketenangan ini.

Apa yang saya pelajari selama enam malam dan tujuh hari di sini adalah tentang proses kehidupan. Cara penyampaiannya menurut saya luar biasa. Hal-hal yang sebenarnya rumit untuk kita pahami dalam kehidupan bisa dijelaskan secara terstruktur. Buat orang seperti saya yang terbiasa bekerja dengan logika, cara seperti itu sangat masuk di kepala saya.

Dulu saya tidak mengerti apa itu hal-hal metafisik. Cakra juga buat saya sesuatu yang tidak terlihat dan sulit dipahami.

Hal utama yang saya pelajari di sini adalah tentang kekuatan pikiran dan bagaimana kekuatan itu bisa kita manfaatkan untuk kesehatan dan ketenangan hidup.

Ternyata pikiran manusia jauh lebih besar daripada yang selama ini saya pahami. Sangat powerful.

Dan melalui meditasi ini, kita diajarkan menggunakan pikiran untuk menyayangi tubuh kita. Nah, itu sesuatu yang baru buat saya.

Saya banyak berkegiatan di organisasi dan kegiatan sosial. Bisa dibilang 365 hari dalam setahun saya memikirkan dunia, memikirkan pembangunan, memikirkan banyak hal yang sebenarnya juga tidak kekal.

Tetapi saya hampir tidak pernah memikirkan tubuh saya sendiri. Di dalam meditasi, kita diajarkan untuk menyapa tubuh kita.

Saya bahagia karena ternyata saya bisa merasakan cakra di tubuh saya. Tadinya bagi saya hal seperti itu terasa mustahil. Saya tidak mengerti dan tidak membayangkan bisa merasakannya. Tetapi ternyata saya bisa. Saya senang sekali.

Kemudian saya mulai menyapa otak saya, menyapa bagian-bagian tubuh saya, dan mengucapkan terima kasih kepada tubuh dengan lembut.

Itu yang saya pelajari. Bahwa ternyata kita perlu menyayangi tubuh kita. Kita perlu menyapa setiap bagian tubuh kita dengan lembut.

Buat saya, itu pelajaran yang sangat penting untuk memelihara tubuh dan kehidupan. Bahkan saking detailnya, saya juga sempat menyapa kulit-kulit wajah saya. Waktu meditasi, saya sempat berpikir, “Wah, ini mungkin bisa menghemat skincare.”

Saya mungkin termasuk peserta yang datang tanpa keluhan penyakit khusus.

Saya lebih datang ke sini karena ingin mendapatkan pengetahuan sebagai early warning, semacam deteksi dini terhadap kondisi tubuh sebelum muncul penyakit yang lebih serius.

Kenapa saya akhirnya datang ke sini? Saya diajak oleh anak saya, Andrea. Andrea sudah mengikuti Tapa Brata 1 sebanyak tiga kali. Dan yang ketiga kali ini dia datang untuk mengantarkan saya.

Sebelumnya dia sudah beberapa kali bercerita tentang Tapa Brata, tetapi saya tidak terlalu tertarik.

Sampai akhirnya saya melihat perubahan dalam dirinya. Saya melihat anak saya menjadi lebih tenang dan lebih bijaksana.

Di usia saya sekarang, ternyata justru anak saya yang mengajak saya kembali “sekolah.”

Saya merasa sehat. Tetapi tentu kita juga tidak boleh sombong. Mungkin kalau saya diperiksa oleh Pak Merta atau Pak Korma, pasti ada saja yang ditemukan.

Di usia 65 tahun, seberapa sehat pun seseorang, pasti mulai ada kecenderungan tertentu di dalam tubuh, misalnya dari darah, tekanan darah, dan sebagainya.

Saya sendiri punya persoalan dengan kolesterol. Memang tidak terlalu tinggi, tetapi selalu ada kecenderungan ke sana.

Kemudian saya bertanya kepada Pak Korma, “Kalau kolesterol selain faktor makanan, ada faktor apa lagi ya?” Karena menurut saya, selama ini saya sudah cukup hati-hati menjaga makanan.

Lalu Pak Korma mengatakan bahwa bukan hanya makanan yang bisa memengaruhi kondisi tubuh. Ada juga faktor dari proses kehidupan dan reaksi-reaksi pikiran kita. Salah satunya bisa berkaitan dengan keserakahan.

Saya teringat cerita Pak Merta.

Manusia punya kecenderungan, ketika mendengar misalnya suatu penyakit dikaitkan dengan sifat egois, kita langsung berpikir, “Oh, itu bukan saya.”

Saya juga begitu. Saya berpikir, “Serakah apa saya? Aset juga biasa-biasa saja. Investasi juga biasa saja.”

Tetapi justru di sini kita diajarkan bahwa pikiran itu sangat halus. Kita belajar mengenali reaksi-reaksi kecil yang selama ini mungkin tidak pernah kita sadari.

Kalau saya pikir-pikir lagi, keinginan saya yang sangat kuat supaya bebas dari gangguan kolesterol pun mungkin bisa menjadi bentuk keserakahan.

Jadi yang saya pelajari di sini adalah jangan terlalu tegang. Santai saja. Let it go. Tetapi tetap berusaha. Bagi saya, di situlah keseimbangan hidup.

Dan itu merupakan ilmu yang sangat dalam. Tidak mudah, tetapi menurut saya sangat penting.

Kita bukan hanya mencari penyakitnya, tetapi juga berusaha memahami penyebab dan reaksi-reaksi pikiran yang mungkin ikut berperan di baliknya.

Lalu kenapa saya mau mengikuti retreat ini?

Ketika Andrea bertanya apakah saya mau ikut, dalam hati saya langsung berpikir, “Saya mau jeda dari pekerjaan.”

Saya mengurus berbagai kegiatan hampir 365 hari dalam setahun. Jadi saya ingin benar-benar berhenti sebentar. Tanpa internet, saya siap. Saya ingin tidak diganggu dulu oleh dunia itu.

Kemudian ditanya, “Mau pilih Forest Island atau Baturiti?”

Saya pilih Forest Island. Saya memang ingin berada dekat dengan alam. Dan ternyata saya sangat menyukainya.

Rasanya luar biasa ketika bermeditasi sambil mendengar suara jangkrik pada malam hari, suara burung pada pagi hari. Bahkan suara hujan pun menjadi terasa sangat indah ketika kita benar-benar mendengarkannya dan menerimanya.

Menurut saya, lingkungan di sini sangat mendukung proses meditasi. Kemudian saya sempat bertanya kepada diri sendiri. Biasanya orang datang ke retreat untuk recharge. Setelah enam hari di sini, apakah saya merasa sudah recharge? Saya rasa jawabannya baru bisa saya lihat setelah pulang nanti.

Apakah saya benar-benar bisa memperbaiki reaksi-reaksi buruk yang selama ini saya lakukan? Apakah perubahan kesadaran yang saya peroleh di sini benar-benar bisa saya bawa ke kehidupan sehari-hari? Nanti mungkin saya konfirmasi di grup WhatsApp.

Tetapi paling tidak, sekarang saya sudah punya satu niat. Saya ingin mencintai dan menyayangi suami saya dengan lebih baik lagi.

Sudah 40 tahun menikah. Kadang-kadang rasa cintanya memang seperti sudah tidak terasa lagi.

Kadang-kadang juga seperti Tom and Jerry.

Tetapi cerita-cerita Pak Merta benar-benar menginspirasi saya.

Saya mulai berpikir, jangan-jangan kondisi tubuh saya juga dipengaruhi oleh reaksi-reaksi buruk kepada orang-orang yang justru paling dekat dengan saya.

Pada hari kedua, ketika meditasi penyembuhan, saya mencoba mengikuti tips dari Pak Korma: perhatian diarahkan ke cakra dasar, kemudian diarahkan ke kaki.

Dan ternyata memang terasa lebih baik. Saya senang sekali.

Saya sampai berpikir, “Wah, ternyata saya bisa mengontrol rasa sakit.”

Buat orang yang sebelumnya tidak mengenal hal-hal metafisik, bisa merasakan pengalaman seperti itu tentu menyenangkan sekali.

Tetapi kemudian saya teringat pesan di depan, “Jangan cepat-cepat gembira. Itu juga bisa berubah.” Benar juga. Semuanya anicca.

Yang tadinya posisi duduk terasa nyaman, beberapa saat kemudian bisa kembali tidak nyaman.

Itulah kehidupan. Terus berubah.

Kita memperbaiki lagi, lalu berubah lagi, kita menyesuaikan lagi. Begitulah proses kehidupan kita.

Oh iya, ada satu cerita terakhir.

Kemarin setelah HP kami dikembalikan, saya langsung menelepon suami bersama anak saya.

Kami video call. Kemudian saya tanya, “Papa sudah terima belum paket dari kami?”

Dia tanya, “Paket apa?”

Saya bilang, “Kami kirim paket semoga bahagia.”

Lalu suami saya bilang, “Nggak, biasa-biasa saja.” Bapak-bapak kan kadang tidak terlalu banyak bicara. Tidak apa-apa.

Tetapi saya bisa melihat dari wajahnya, sepertinya dia sudah menerima paket itu.

Jadi mungkin efek meditasi cinta kasih itu memang bisa terasa cukup cepat. Terima kasih.

Program & Kelas

Jadwal Kegiatan

Program & Kelas

Program Meditasi