November tahun lalu, saya memutuskan untuk mengikuti Tapa Brata karena didorong oleh mama saya. Kondisi saya waktu itu cukup berat. Untuk mengikuti Tapa Brata, saya bahkan harus melepaskan pekerjaan karena saya tidak mendapatkan cuti selama satu minggu.
Kemudian, pada sehari sebelum saya berangkat ke sini, mantan pacar saya memutuskan untuk pergi dengan wanita lain. Jadi saya datang ke sini dalam keadaan patah hati, sekaligus dengan perasaan bahwa setelah ini saya tidak akan memiliki pekerjaan dan mungkin tidak punya penghasilan.
Saya datang ke Tapa Brata dan merasakan banyak hal. Saat itu saya merasa bahwa keputusan untuk hadir di sini adalah keputusan yang tepat.
Singkat cerita, tiga hari setelah Tapa Brata selesai, saya kembali ke Surabaya. Pada hari itu juga saya langsung mengalami epilepsi lagi.
Karena saya memiliki ketakutan yang sangat besar terhadap epilepsi ini, pikiran saya langsung berkata, “Berarti metode penyembuhan ini tidak berhasil pada saya.”
Saya tetap mencoba bermeditasi pada hari-hari berikutnya. Saya selalu melihat mama saya sangat rajin bermeditasi, sedangkan setiap kali saya meditasi, justru saya merasa tertekan. Bukannya merasakan penyembuhan, saya malah merasa semakin tertekan di dalam diri.
Akhirnya saya berpikir, “Oke, mungkin metode ini tidak berhasil untuk saya.”
Mama dan papa saya juga sering marah karena saya sangat jarang bermeditasi. Sampai akhirnya saya kembali mengalami kejang. Saya bekerja sebagai penyiar TV, dan pernah sekitar sepuluh menit sebelum siaran saya mengalami kejang.
Kemudian, ada seorang peserta Tapa Brata. Beliau baru saja meninggal dunia.
Namanya Dero. Dia bukan teman yang sangat dekat dengan saya, tetapi kami saling mengenal. Dero sudah pernah mengikuti Tapa Brata. Bahkan dia mampu melakukan meditasi terbuka selama dua jam tanpa berhenti dan tanpa bergerak sama sekali. Dia sangat menikmati meditasi dan sebenarnya ingin kembali lagi ke sini. Tetapi Tuhan memberikan jalan yang lain. Tuhan memutuskan untuk memanggilnya.
Ketika itu saya dan mama memutuskan untuk datang ke rumah duka. Lalu saya bertemu dengan Mama Dero. Ia berkata, “Kamu ikut meditasinya Pak Merta, ya? Ikut Tapa Brata, ya?”
Saya bilang, “Iya.”
Lalu beliau berkata, “Teruskan, ya. Jalani terus.”
Saat itu saya langsung merinding. Saya berpikir, “Apakah ini sebuah pertanda supaya saya memberikan kesempatan lagi kepada metode ini?”
Kemudian mama saya memutuskan untuk ikut Tapa Brata lagi dan saya pun akhirnya ikut untuk kedua kalinya, yaitu yang sekarang ini. Saya merasa bahwa sekarang adalah waktunya bagi saya untuk benar-benar serius.
Ketika saya melakukan meditasi penyembuhan di Tapa Brata pertama, kepala saya terasa sangat panas sampai saya membutuhkan oksigen. Waktu itu saya sampai merasa kekurangan napas.
Kemudian ketika saya mulai Tapa Brata yang kedua ini, pada hari pertama, kedua, dan ketiga, saya mengalami mimpi buruk. Salah satunya, saya bermimpi mengalami kejang di kamar. Dalam mimpi itu saya ditolong oleh para instruktur, mama saya, dan orang-orang di sekitar saya. Padahal semuanya hanya mimpi.
Mama saya sampai membangunkan saya tiga kali. Saya tersentak dan merasa bahwa kejang itu benar-benar terjadi di tempat ini. Saya sampai bertanya pada diri sendiri, “Apakah saya benar-benar ada di sini?”
Saya masih mengalami mimpi buruk. Tetapi entah kenapa, kali ini cara berpikir saya mulai berubah.
Saya mulai bertanya, “Apakah ini mungkin bagian dari proses untuk melepaskan energi buruk? Apakah ini proses untuk melepaskan trauma saya?”
Karena setelah saya mengalami kejang, biasanya saya tidak berani kembali ke tempat saya mengalami kejang tersebut. Padahal tempat-tempat itu kebanyakan adalah kantor saya sendiri atau tempat tinggal saya sendiri.
Jadi trauma itu datang terus-menerus.
Sampai akhirnya saya bertanya kepada Pak Korma, “Bagaimana ini, Pak? Saya terus mengalami mimpi buruk.”
Saya bermimpi mengalami kejang. Saya juga bermimpi diselingkuhi. Jadi semua trauma yang saya alami sebelum mengikuti Tapa Brata pertama justru datang kembali sekarang.
Sampai akhirnya, ketika meditasi penyembuhan, entah kenapa saya merasa ada sesuatu yang berbeda.
Saya mulai berusaha menerima kondisi saya. Saya menerima bahwa saya mengalami kejang. Saya juga menerima bahwa ternyata saya membutuhkan Tuhan dalam hidup saya.
Sebelum meditasi, saya meminta izin kepada Tuhan sesuai dengan keyakinan saya. Saya berkata dalam hati, “Tolong bantu saya menjalani meditasi ini.”
Setelah meditasi penyembuhan, saya merasakan sakit di berbagai bagian tubuh. Bukan hanya di otak. Pertama, saya merasakan sakit di bagian kiri kepala saya, yang memang menjadi pusat masalah saya. Kemudian saya merasakan sakit di kepala sebelah kanan, di punggung, bahkan sampai di bagian liver.
Karena itu Pak Merta memberikan PR lagi kepada saya.
Tetapi kali ini respons saya berbeda.
Dulu saya cukup tidak suka dengan kata anicca. Mohon maaf, Pak. Karena mama saya selalu mengucapkan kata anicca setiap kali ada masalah.
“Anicca, anicca.”
Saya sampai berpikir, “Kenapa sih, Ma? Memangnya kata itu bisa menjadi solusi?”
Tetapi akhirnya sekarang saya mulai merasakan sendiri bahwa anicca adalah sebuah kata yang begitu bermakna.
Ketika saya berusaha menerima bahwa semuanya berubah, ternyata saya merasa jauh lebih baik. Saya tidak mengatakan bahwa sekarang saya langsung sembuh dan tidak akan pernah mengalami kejang lagi.
Ini adalah kali kedua saya membagikan kesaksian saya. Semoga pengalaman ini juga bisa menjadi pengingat bagi saya sendiri.
Ketika nanti saya pulang, saya ingin tetap mengumpulkan niat untuk kembali bermeditasi, meskipun mungkin saya masih mengalami kejang, meskipun mungkin saya masih mengalami tremor berkali-kali.
Dulu, ketika saya mengalami tremor, saya selalu menolaknya. Saya marah kepada Tuhan. Saya marah kepada semuanya. Saya juga marah kepada mama saya.
Saya bertanya, “Kenapa saya harus lahir seperti ini?”
Tetapi ternyata Tuhan punya cara-Nya sendiri.
Kemarin malam, ketika semua orang sudah tidur, saya melihat ke arah langit. Langitnya bagus sekali. Saya kemudian diam di bawah pohon Bodhi dan menangis.
Saya berkata kepada Tuhan, “Ternyata Engkau menjadikan duka sebagai penunjuk jalan untuk saya.”
Tetapi tidak apa-apa.
Anicca.
Dibalik kedukaan, kesengsaraan, dan kesakitan, ada kesembuhan, ada ketenangan, ada kegembiraan dan kebahagiaan.
Dan semuanya juga tidak kekal.
Yang terpenting adalah bagaimana Pikiran Harmonis kita mampu menerima dan menyeimbangkan semuanya.
Jadi, mungkin sahabat-sahabat meditasi di sini juga memiliki masalahnya masing-masing, memiliki traumanya masing-masing. Semoga setiap Sahabat Meditasi dapat menemukan pencerahan dengan versinya masing-masing.