Ketika itu, saya diinstruksikan oleh Pak Korma untuk merasakan cakra, kemudian dialirkan ke bagian ini. Saya terus merasakan, terus merasakan, dan ternyata muncul sebuah memori. Memori itu sebenarnya sudah saya ketahui sebelumnya melalui salah satu terapi diri dengan hipnoterapi.
Ketika itu, entah bagaimana, mungkin ada tekanan pada kandungan ibu saya yang kemudian terasa seperti menyakiti bagian paha saya. Saat melihat itu, saya hanya berpikir, “Oh, begitu.”
Kemudian saya diminta untuk terus merasakan sakit tersebut. Memori itu memang menyakitkan, tetapi saya berpikir, “Ya sudah, rasakan saja, rasakan saja.” Lalu saya menyadari, anicca, ini tidak kekal.
Akhirnya, saya merasakan seperti ada satu urat panjang dari hip yang terlepas. Terlepas begitu saja. Saya sampai berpikir, “Oh, kok bisa, ya?”
Kemudian saya menyadari bahwa hip kita sebenarnya bisa berputar. Selama ini hip saya tidak bisa berputar. Ketika berjalan pun, tubuh saya selalu seperti membungkuk.
Orang-orang sering menertawakan saya ketika saya masih kecil. Saya sendiri tidak tahu dan tidak menyadari bagaimana saya bergerak. Ketika belajar yoga pun saya tidak menyadarinya. Bahkan ketika belajar meditasi pun saya tidak menyadarinya. Tetapi melalui pengalaman ini, saya akhirnya bisa menyadarinya. Saya sampai berpikir, “Eh, ternyata bisa, ya?”
Ketika tadi badan saya agak bergerak ke sana, saya membiarkan energinya bergerak. Saya merasakan seperti ada sedikit putaran. Karena merasa ada putaran, saya coba lagi. Saya berpikir, “Benar tidak sih ini bisa berputar?” Ternyata memang bisa.
“Oh iya, benar, ternyata bisa berputar. Oh, anicca.”
Kemudian di bagian bahu saya memang sangat lemah. Ada satu bagian urat yang kalau dalam yoga kita melakukan pose tertentu, saya akan langsung seperti terblokir. Saya tidak mampu melakukannya karena bagian ini terasa sakit.
Ketika saya benar-benar merasakannya, ternyata seperti ada satu bagian yang selama ini saya lindungi dengan siku saya. Seolah-olah saya tidak mau bagian itu disakiti.
Mungkin ketika kecil saya agak malas belajar. Itu memori yang muncul. Mama saya mungkin sudah lelah, tetapi masih harus mengajari saya. Namanya juga anak kecil, sukanya bermain-main. Jadi, waktu itu saya mendapat hukuman.
Karena sakitnya sangat kuat, saya kemudian melindungi diri saya. Saya tidak menyangka bahwa pola perlindungan itu ternyata terbawa terus sampai sekarang. Rasa sakitnya seperti menarik sampai ke ketiak.
Tetapi sekarang, walaupun terasa menyakitkan, saya merasa, it’s okay. Sepertinya ada sesuatu yang mulai terlepas. Rasa sakit ini mungkin muncul karena otot tersebut sudah sangat lama tidak digunakan, sejak saya berumur sekitar 7 tahun sampai sekarang saya berumur 50 tahun.
Berarti sudah terlalu lama bagian itu saya lindungi. Karena itu, saya masih merasa takut untuk menggerakkannya. Tetapi saya berpikir, “Oh ya sudah, mungkin porsinya memang baru segitu dulu.” Nanti mungkin melalui yoga bisa dikembangkan lagi dan otot-ototnya perlahan bisa dikuatkan.
Suami saya dan anak saya juga sudah pernah datang ke sini. Suami saya sudah tiga kali, sementara anak saya satu kali.
Setelah pengalaman ini, saya semakin memahami bahwa apa pun yang terjadi, memori kita memang dapat tersimpan di dalam tubuh.
Memori mengenai apa yang terjadi pada bagian hip saya sebenarnya sudah pernah saya lepaskan ketika menjalani hipnoterapi. Namun, ternyata jejak rasa sakit atau tendensi yang tersimpan di bagian tubuh itu masih ada dan saya sendiri sebelumnya tidak mengetahuinya.
Meskipun secara memori dan secara emosi saya merasa sudah melepaskannya, ternyata tendensi yang terbawa di dalam tubuh masih tetap ada. Jadi saya berpikir, kita patut bersyukur bisa berada di sini dan memiliki kesempatan untuk terus berusaha.
Ada satu pesan dari teman saya di sini. Katanya, “Di sini ada sebuah gerbang. Setelah kita keluar, kita akan kembali menghadapi kenyataan hidup. Ini adalah gerbangnya.” Jadi, ketika kita keluar dari gerbang ini, di situlah latihan kita yang sebenarnya dimulai.
Semoga kita semua tetap semangat dan terus-menerus melatih pikiran baik ini. Saya tidak pernah menyangka akan menemukan sesuatu yang seindah ini, sebuah kebenaran mulia seperti ini.
Walaupun saya sudah belajar begitu lama, saya merasa cara Pak Merta Ada mengajarkannya sangatlah jenius. Sesuatu yang begitu dalam dapat diajarkan dengan begitu indah dan begitu sederhana sehingga mudah untuk kami rasakan.
Terima kasih, Guru.
Pesan saya, terima kasih atas kasih dan kebijaksanaan yang selalu hadir untuk kami, orang-orang yang mungkin terkadang lupa jalan untuk pulang.
Semoga tempat ini selalu ada dan menjadi rumah bagi kami yang membutuhkan jalan untuk pulang. Jadi, ketika suatu saat latihan kita mulai melemah, pulanglah ke sini, ke rumah ini. Kita berlatih lagi, kemudian keluar dan berkembang lagi, lalu kembali berjuang menjalani kehidupan.