Testimoni Nia Dinata

Nia Dinata: 15 Tahun Menunggu, 7 Hari Mengubah Segalanya

Saya Nia, dari Jakarta. Mungkin saya mulai dari sedikit mundur. Dua bulan lagi usia saya genap 56 tahun. Kemarin, setelah selesai mengikuti Tapa Brata ini, saya datang bersama teman baik saya, Mbak Ani dari Yogyakarta. Kami berpelukan dan berkata, “Ya ampun, kita sudah setua ini, tapi kita bisa melakukannya.” Itu sangat mengharukan.

Sebenarnya, Tapa Brata dan nama Pak Merta tidak asing bagi saya. Sejak saya melahirkan anak kedua pada tahun 2001, saya sudah mulai mengenal yoga. Tahun 2010 saya mengikuti pelatihan guru yoga dan mendapatkan sertifikasi. Namun karena kesibukan saya di dunia film, bekerja syuting dari jam lima pagi sampai tengah malam, saya hanya sempat yoga untuk diri sendiri dan untuk kru, tidak pernah mengajar secara komersial. Biasanya sebelum syuting saya mengajak kru melakukan Surya Namaskara bersama.

Ketika tidak sedang produksi film, saya aktif di komunitas yoga, dan hampir 30 persen dari komunitas itu sudah pernah mengikuti Tapa Brata. Mereka sering mendorong saya untuk ikut. Bahkan pada tahun 2010 saya sudah mendaftar dan membayar, tetapi pada saat yang sama film saya masuk nominasi festival luar negeri. Karena itu saya memilih menghadiri festival tersebut. Teman saya yang akhirnya ikut Tapa Brata waktu itu menyampaikan pesan bahwa, “Kalau belum berjodoh, jangan dipaksakan. Nanti akan datang waktunya.”

Dan ternyata, jodohnya datang 15 tahun kemudian.

Salah satu teman kami baru selesai ikut Tapa Brata. Kami bertiga mengobrol, ia membuka situsnya dan menunjukkan tanggalnya. Saya cek ke kantor, ternyata tidak ada jadwal apa pun. Teman saya juga bisa. Kami langsung mendaftar dan membayar. Itulah yang membawa kami ke sini.

Saya datang ke sini dalam kondisi menopause. Saya memasuki menopause di usia 52 tahun dan sekarang sudah tahun keempat. Saya merasa tubuh saya tidak fit seperti dulu. Saya mengalami frozen shoulder, hot flush, sulit tidur, keringat malam, dan perubahan fisik lainnya. Saya bahkan memeriksakan hormon dan kadar estrogen saya sudah nol. Saya tidak ingin menjalani terapi pengganti hormon karena ingin memilih jalan yang alami.

Karena itu saya merasa Tapa Brata ini sangat tepat untuk fase hidup saya. Ia membuat saya lebih sadar pada tubuh, lebih mindful dalam setiap gerakan. Saya belajar menerima perubahan tubuh dengan lebih lembut.

Menariknya, saya sempat cedera pinggang tiga hari sebelum datang ke sini. Di sini saya mendapatkan ruang untuk melakukan latihan ringan, termasuk dari fisioterapis. Pada hari ketiga, rasa sakit itu tiba-tiba hilang. Saat meditasi dan pemindaian tubuh, rasa sakit itu tidak ada. Ia justru muncul di luar sesi. Dari situ saya sungguh memahami Anicca—bahwa sesuatu bisa muncul dan lenyap tanpa bisa kita kendalikan.

Saya merasa Tapa Brata ini sangat membantu bagi siapapun yang memasuki fase perimenopause atau menopause, meskipun tanpa penyakit yang berat, karena membantu menenangkan pikiran dan menerima perubahan.

Saya juga ingin berterima kasih kepada semua orang di sini. Energinya sangat hangat. Saya merasakan cinta kasih yang besar di ruang ini.

Saat sesi terakhir tentang cinta kasih, saya teringat kakek-nenek dan buyut-buyut saya yang dulu sering bercerita tentang kebaikan hidup, tentang manusia, tentang nilai-nilai sederhana. Saya merasa kita sekarang sudah mulai kehilangan itu. Dan melihat kondisi bangsa kita yang penuh tantangan, saya merasa bahwa latihan-latihan seperti ini seharusnya semakin dihidupkan, bukan dengan paksaan, tetapi dengan keteladanan.

Tantangan saya ke depan adalah bagaimana mengajak anak saya, gen Z, untuk juga menemukan jalan batinnya sendiri. Mohon doanya. Terima kasih banyak. Semoga bermanfaat.

Program & Kelas

Jadwal Kegiatan

Program & Kelas

Program Meditasi