Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bali Usada, kepada Pak Korma dan Bu Atik, yang sudah memimpin acara ini dengan sangat harmonis.
Kenapa saya bisa ada di sini?
Karena saya sudah punya istri. Suatu hari, beberapa bulan lalu, malam-malam tiba-tiba istri saya mengajak saya ke Bali Usada. Saya tanya, “Itu acara apa? Saya nggak tahu.”
Dia bilang, “Ini meditasi. Ayo kita ikut bareng-bareng, supaya bisa membantu melepas semua trauma.”
Lalu saya bilang, “Enggaklah, gue belum butuh yang begituan. Belum perlu menyendiri seperti itu.”
Tapi ada satu momen yang akhirnya membuat saya merasa harus ikut. Untuk pertama kalinya dalam seumur hidup saya, dia menangis di depan saya dan bilang, “Please, kali ini aja ikut. Habis ini gue nggak akan minta yang lain lagi.”
Walaupun sebenarnya kalau dia minta yang lain pun saya juga oke.
Akhirnya dia ikut lebih dulu, sekitar dua minggu lalu. Waktu dia ikut, saya di rumah menjaga anak kami yang umurnya sudah 3 tahun. Setelah dia pulang, saya tanya bagaimana kesannya.
Dia hanya bilang, “Ikuti saja. Pokoknya kamu pasti suka. Karena ajarannya sangat sesuai dengan apa yang selama ini kamu ucapkan.”
Dia bilang, “Pasti kamu bakal suka banget.”
Oke, ya sudah.
Sampai akhirnya hari Sabtu kemarin. Malamnya, seperti biasa, kami pergi berdua. Saya tanya, “Yakin nih? Gue harus ikut?”
Dia jawab, “Iya, ikut aja. Sudah dibayar soalnya.”
Ya sudah, akhirnya saya mantap. Saya diantar ke Sanur bersama anak saya.
Rasanya sulit sekali. Dalam hati saya berpikir, “Aduh, gue pengen pulang.” Tapi ya sudah, saya sampai di sini.
Pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini, saya sempat berpikir, “Ngapain ya gue di sini?”
Saya bahkan sengaja membawa barang cukup banyak. Jadi kalau misalnya saya harus pulang, kami bisa cari hotel di sini. Saya bisa ajak istri saya dan mungkin dia malah lebih senang.
Lalu saya melihat makanannya. Ada kentang, sop, dan makanan-makanan yang saya suka. Saya pikir, “Oh, makanannya bakal enak banget nih. Saya nggak perlu mikir akan makan apa setiap hari.”
Hari kedua, saya sudah ingin pulang. Tapi saya masih penasaran dengan hari berikutnya, karena istri saya bilang, “Tunggu saja sampai hari cinta kasih. Kamu pasti suka banget.”
Saya juga ingin berterima kasih kepada Bu Atik, karena suara belnya membuat saya ingat pada bel sekolah, pada masa-masa ketika hidup rasanya belum punya beban. Pikirannya cuma main saja. Belum perlu cari uang, belum banyak tuntutan.
Tapi bel itu juga sempat membuat saya trauma, Bu. Biasanya di rumah saya bisa mengatur alarm sendiri sesuka hati. Di sini, kalau dibangunkan, ya dibangunkan oleh bel.
Tapi sebenarnya, waktu di sini memang tidak terlalu terasa. Mulai dari sesi penyembuhan, ketika saya merasakan seluruh badan, awalnya saya tidak merasakan apa-apa. Makin lama saya berpikir, “Ngapain gue di sini? Apa gue pulang saja?”
Tapi setelah beberapa kali istirahat, lalu setelah olahraga Usada, tiba-tiba tubuh saya terasa panas. Lalu tiba-tiba muncul sebuah memori.
Saya ini sangat benci kalau ditelepon. Setiap ada telepon, saya hampir selalu reject. Saya selalu bilang, “WA aja, WA aja.”
Lalu muncul pertanyaan dalam diri saya, kenapa saya seperti itu?
Ternyata saya teringat satu kejadian. Waktu itu saya sedang main di lantai dua kamar. Saya masih kelas 3 SD. Lalu Opa saya menelepon saya dan bilang bahwa Kungkung saya tidak selamat setelah operasi.
Saya menangis kencang sekali, karena Kungkung adalah orang yang paling dekat dengan saya.
Sejak saat itu, beberapa kali kabar duka juga datang lewat telepon. Saya jadi kesal sekali dengan telepon. Mungkin dari saat itu sampai sekarang, setiap melihat telepon masuk, saya selalu ingin menolak, termasuk telepon dari istri saya.
Lalu masuk ke sesi cinta kasih. Ini yang benar-benar sesuai dengan apa yang istri saya bilang. Mungkin dia memang tahu saya lebih daripada saya mengenal diri saya sendiri.
Dia bilang saya pasti suka sekali dengan cinta kasih. Saya ini termasuk orang yang hatinya sensitif, walaupun saya bertato. Hati saya sebenarnya Hello Kitty.
Jadi saat sesi cinta kasih pertama kemarin pagi, tiba-tiba semua memori muncul. Termasuk memori tentang Kungkung saya.
Sebenarnya, dari dulu saya merasa Kungkung meninggal karena saya. Dulu, ketika saya kelas 3 atau 4 SD, dia sering memberi saya uang Rp 20.000 supaya saya mengizinkan dia merokok di kamar. Padahal saya, sebagai orang yang paling dekat dengan Kungkung, sudah diberi tahu oleh mama dan papa saya, “Jangan kasih Kungkung merokok, ya. Kungkung sudah sakit, sudah mau operasi. Kasih dia yang sehat-sehat.” Tapi namanya juga anak kecil, dikasih uang, ya saya iya-iya saja.
Lalu saya menangis. Cukup lama. Saya benar-benar teringat semuanya. Semua memori cinta kasih yang mungkin selama ini saya pendam, yang tidak pernah saya lontarkan dan tidak pernah saya ucapkan kepada siapa pun. Karena saya memang orang yang suka memendam sendiri.
Begitu Pak Merta mengatakan tentang cinta kasih, termasuk kepada hewan liar, saya semakin menangis lagi. Saya teringat anjing saya yang mati saat saya sedang menggunakan tongkat setelah operasi.
Anjing itu mati di depan saya. Dan saya selalu merasa, “Anjing ini mati karena saya. Kalau waktu itu saya tidak pakai tongkat, mungkin saya bisa lari dan menyelamatkan dia.” Trauma itu selalu muncul setiap ada anjing menyeberang di jalan. Saya selalu benar-benar flashback.
Lalu saya mencoba mengatakan kepada diri saya sendiri bahwa semua itu adalah Anicca. Tidak ada yang kekal, tidak ada yang abadi. Kita harus belajar melepaskan, belajar merelakan, dan belajar memberikan lebih banyak cinta kasih kepada semua makhluk.
Termasuk kepada orang-orang yang pernah menipu saya, yang pernah menyakiti saya, dan juga kepada diri saya sendiri yang selama ini merasa Kungkung meninggal karena saya.
Semua ceramah yang diberikan sangat membantu saya. Saya sangat berterima kasih, karena itu membantu saya menemukan ketenangan di dunia ini.
Bahkan tadi, saat konsultasi dengan Bapak, saya tidak sadar bahwa sebenarnya istri saya yang mengisi semua informasi. Jadi ketika muncul kata “anxiety”, saya sempat berpikir, “Kok anxiety? Kan saya nggak tulis apa-apa.”
Tapi mungkin memang karena sifat buruk saya, ego, dan semuanya. Awalnya saya masih bilang, “Saya nggak merasa ada masalah. Saya ke sini memang terpaksa karena disuruh istri saja.”
Tapi semakin saya mengikuti prosesnya, saya semakin senang berada di sini.
Saya semakin bisa menerima keuntungan dan kerugian. Saya semakin belajar apa yang harus dilepaskan dan apa yang harus direlakan. Saya juga semakin sayang kepada keluarga, terutama kepada istri saya.
Mungkin untuk teman-teman yang masih mencari pasangan, carilah pasangan yang bisa menerima kita apa adanya, bukan karena ada apanya. Carilah pasangan yang bisa membimbing kita bersama-sama menuju jalan hidup yang lebih benar.
Sebelum saya menutup, saya ingin mengatakan bahwa hari ini terasa terang sekali. Pagi ini cerah sekali. Sunrise-nya sangat bagus. Tapi tetap masih kalah cerah dibanding wajah teman-teman semua.