Bagi saya, itu sangat mengejutkan. Saya berpikir, “Saya bisa mati? Saya harus mengganti organ?” Saat itu saya baru tahu bahwa saya terkena sirosis hati. Saya bingung, karena selama ini saya tidak merasakan gejala apa pun. Tubuh saya terasa baik-baik saja. Saya juga seorang vegetarian sejak kecil, terbiasa makan sayur.
Kemudian saya bertemu dengan Pak Merta Ada. Beliau menasihati saya dengan sangat baik, mengajarkan bagaimana saya harus menerima kondisi ini dan mulai berupaya melalui meditasi.
Saya sebenarnya tidak bisa bermeditasi. Pikiran saya terlalu aktif. Kalian lihat sendiri, saya tidak bisa diam, selalu bergerak ke sana-sini.
Namun dalam meditasi ini, perlahan saya mulai menemukan diri saya sendiri. Saya sangat tersentuh dengan ceramah Pak Merta yang begitu dalam, sampai sulit saya ungkapkan kembali dengan kata-kata. Tapi kesannya sangat membekas sampai sekarang.
Ini sudah tahun keempat saya bermeditasi di Bali Usada. Dari kondisi di mana saya percaya bahwa saya bisa meninggal, hingga sekarang saya masih bisa bertahan.
Waktu itu dokter di Malaysia juga mengatakan kondisi saya cukup serius—limpa sudah membesar, pembuluh darah sudah melebar, dan saya harus segera bertindak. Saya benar-benar merasa bahwa kematian itu dekat.
Dalam kondisi yang tidak stabil, kita memang membutuhkan seorang guru yang bijaksana. Bagi saya, guru yang bijaksana itu adalah Pak Merta.
Kalau pikiran saya sedang berat atau ada banyak masalah, saya datang ke Bali Usada. Saya mencari tempat yang tepat untuk healing. Saya tidak memilih liburan yang melelahkan. Saya merasa saya perlu tempat yang benar-benar bisa mengembalikan energi positif saya.
Di Tapa Brata 2 ini, saya merasakan energi kebersamaan dari teman-teman semua. Rasanya hangat dan menyenangkan. Kadang melihat satu per satu dari kalian saja sudah membuat saya tersenyum atau tertawa sendiri.
Sejak saya sakit, saya benar-benar merasakan bahwa hidup itu sangat berharga. Waktu itu sangat berharga. Kesempatan untuk hidup itu sangat berharga.
Setiap hari saya merasa bersyukur, “Wah, saya masih hidup.” Hal-hal sederhana seperti makan pun terasa sangat berarti. Saya berpikir, kalau suatu saat saya tidak punya tubuh lagi, mungkin hal-hal sederhana seperti itu pun tidak bisa saya nikmati.
Karena itu saya belajar untuk menikmati udara, kesegaran, dan kehidupan di bumi ini. Saya belajar untuk bersyukur atas apapun yang terjadi.
Saat bertemu dengan kalian di sini, saya juga menyadari bahwa ada orang-orang yang kondisi kesehatannya bahkan lebih berat dari saya. Dan saya merasa sangat bersyukur. Saya tidak perlu menjalani kemoterapi, tidak perlu mengalami hal-hal berat seperti itu. Saya cukup menjaga pola makan, menjaga pikiran, bermeditasi, dan berusaha hidup dengan energi yang positif.
Saya juga selalu berusaha memberikan energi yang baik kepada orang-orang di sekitar saya.
Melalui meditasi, saya merasakan sesuatu yang sangat penting yaitu ketika menghadapi kemungkinan kematian, saya merasa lebih tenang. Berbeda jika saya tidak belajar meditasi, mungkin saya akan sangat melekat pada tubuh dan segala sesuatu di sekitar, dengan ketakutan yang sulit dilepaskan.
Namun sekarang, saya merasa bisa lebih ikhlas, bahkan lebih damai dalam melepaskan.
Semoga teman-teman semua selalu berbahagia. Terima kasih atas pertemuan ini, dan semoga kedepannya kita bisa bertemu lagi.