Perjalanan saya ke dunia wellness dimulai dari tubuh. Saya dulu anak gym, rutin berlatih di sebuah fitness club sejak sekitar tahun 2010. Suatu hari saya melihat kelas yoga di studio gym tersebut—orang-orang tampak berbaring, stretching, terlihat tenang. Saya tertarik dan ingin mencobanya, karena saya lelah bekerja dan ingin sesuatu yang menenangkan.
Ketika pertama kali ikut yoga, tubuh saya kaku sekali. Saya sadar bahwa saya selama ini meremehkan yoga. Namun titik baliknya justru terjadi pada sesi terakhir—corpse pose atau savasana. Di situ, tiba-tiba ada sesuatu di dalam diri saya yang meledak, dan saya menangis. Saya menyadari ada bagian dari diri saya yang selama ini tidak pernah tersentuh. Ternyata itu adalah ruang untuk saya bisa tenang dan melepaskan beban-beban yang mungkin bahkan bukan beban saya sendiri.
Dari situ kecintaan saya pada yoga muncul. Saya rutin berlatih, dan tiga tahun kemudian saya menjadi instruktur di fitness club tersebut, mengajar body balance—gabungan yoga dan pilates. Itu adalah fase saya mengenal tubuh: tubuh fisik dan napas.
Namun di belakang itu semua, ada alam bawah sadar saya yang belum sepenuhnya menerima diri sendiri. Ada banyak shame, guilt, dan sadness yang ingin diakui. Seolah-olah bagian-bagian itu berkata, “Akui aku, aku bagian dari dirimu.” Dari situlah saya mulai mengenal meditasi, walaupun masih sangat on and off karena hidup di dunia korporat juga membawa saya ke distraksi lain, termasuk dunia malam—yang sebenarnya adalah bentuk saya lari dari diri sendiri.
Saya mengejar pengakuan di luar: karier, finansial, relasi, pencapaian. Saya pikir jika saya diterima, saya akan bahagia. Tapi semakin saya mengejar ke luar, semakin saya kehilangan diri saya sendiri. Sampai akhirnya saya tiba di titik di mana saya tidak sanggup lagi, dan saya harus mulai melihat ke dalam.
Pandemi menjadi momen besar bagi saya, seperti juga bagi banyak orang. Semua ilusi kebahagiaan yang saya tutupi runtuh. Saya kehilangan relasi, pekerjaan saya terasa sangat toksik sampai saya berani resign tanpa pekerjaan baru, dan keluarga saya juga mengalami sakit. Walaupun saya berasal dari keluarga yang harmonis dan dibesarkan dengan nilai-nilai spiritual, masa itu tetap sangat mengguncang.
Dari situ saya tidak hanya mempraktikkan meditasi, tetapi mulai mendalaminya. Salah satu alasan saya berada di sini adalah karena ini menjadi ritual akhir tahun saya. Dulu akhir tahun saya rayakan dengan pesta dua hari tiga malam, sekarang tujuh hari di sini menjadi “pesta” batin saya.
Selama beberapa tahun terakhir, saya selalu mendedikasikan akhir tahun untuk retreat—entah yoga, meditasi, atau ayurveda. Tahun ini saya memilih Bali Usada sebagai hadiah akhir tahun untuk diri saya sendiri.
Pengalaman di Tapa Brata ini terasa familiar bagi saya, karena saya pernah mengikuti retreat dengan metode yang mirip: pikiran harmonis, body scanning, dan meditasi cinta kasih, biasanya selama sepuluh hari. Jadi duduk lama dan bermeditasi berhari-hari bukan hal yang asing bagi saya—dan saya sungguh menikmatinya.
Di hari pertama dan kedua, banyak sankara atau memori lama yang muncul—seperti gelembung-gelembung yang naik ke permukaan. Saya merasakannya dan membiarkannya lewat. Di hari keempat dan kelima, muncul residu dari perjalanan penyembuhan saya sebelumnya: sisa-sisa rasa bersalah, malu, sedih, dan duka. Secara batin rasanya seperti terhimpit, berat, tetapi ketika saya amati dan lepaskan, semuanya mereda.
Yang saya rasakan setelah itu adalah ringan—seperti bernapas tanpa batas, menyatu dengan udara, sangat damai. Itu yang saya dapatkan dari Tapa Brata ini.
Terima kasih banyak sudah menyimak cerita saya. Semoga kita semua berbahagia.