Dari situlah perjalanan penyembuhan saya dimulai, sekitar tiga tahun yang lalu, setelah saya menikah. Setelah menikah, hidup saya sebenarnya jauh lebih baik dan lebih tenang, tetapi traumanya masih muncul. Hidup saya berubah, tetapi reaksi tubuh saya seolah masih hidup di masa lalu. Di situ saya sadar bahwa ada sesuatu yang belum selesai.
Saya mengalami banyak kebetulan dalam hidup saya yang membimbing saya ke arah penyembuhan, seperti yang juga diceritakan Pak Merta. Salah satunya adalah ketika atasan saya mengikuti sebuah workshop bernama family constellation. Itu adalah metode psikoterapi untuk memulihkan trauma dari sudut pandang sistem keluarga. Di Bali Usada, kita belajar tentang empat unsur Pikiran Harmonis, dan di family constellation pun dikenal unsur-unsur serupa tentang keharmonisan sistem keluarga.
Dari sana saya memahami mengapa keluarga saya tidak harmonis, karena unsur-unsur itu memang tidak hadir. Namun walaupun saya sudah memahami penyebabnya, rasa marah saya masih ada. Saya tahu mengapa, tetapi saya tidak tahu bagaimana melepaskannya.
Sebelum mengenal family constellation, saya sudah mengenal meditasi. Suami saya rutin bermeditasi, tetapi pada waktu itu saya merasa meditasi hanya memberi ketenangan, tidak memberi jawaban. Saya sedang mencari makna “mengapa”, bukan sekadar rasa tenang.
Jawaban tentang “mengapa” saya temukan di family constellation. Tetapi jawaban tentang “bagaimana melepaskan” saya belum temukan. Saya lalu memilih untuk membiarkan hidup berjalan sambil tetap percaya bahwa suatu saat saya akan dipertemukan dengan jawabannya.
Jawaban itu datang ketika atasan saya mengikuti Bali Usada sekitar bulan Juli dan berkata kepada saya bahwa di sana trauma bisa diproses tanpa rasa sakit. Ini menarik bagi saya, karena dalam terapi sebelumnya, emosi dilepaskan dengan cara merasakannya sampai tuntas, menangis sampai puas, marah sampai selesai. Dan itu sangat melelahkan. Hidup saya terasa terus diwarnai oleh emosi lama yang muncul berulang-ulang.
Kebetulan, jadwal Tapa Brata kali ini bertepatan dengan ulang tahun pernikahan saya yang kelima, sehingga saya datang bersama suami.
Pada hari pertama dan kedua, saya tidak merasakan apa pun selain pegal-pegal karena tubuh belum terbiasa. Baru pada hari ketiga dan keempat, sensasi mulai muncul: dada terasa panas, berpindah ke ulu hati, lalu ke area dada kiri dan kanan. Tidak ada memori yang muncul, tidak ada cerita — hanya sensasi tubuh.
Saya terus mengamati dan mengalaminya. Setiap kali saya bertanya maknanya, baik kepada diri sendiri maupun kepada Pak Korma, jawabannya selalu sama, jangan dipikirkan, cukup dialami dan diamati.
Dari situ saya menyadari bahwa kelekatan saya pada rasa ingin tahu mungkin adalah bentuk kemelekatan itu sendiri — bahkan mungkin bentuk keserakahan halus.
Pada hari kelima, sensasi panas dan tekanan semakin kuat dan berpindah-pindah, tetapi tetap tanpa memori.
Pada meditasi terbuka malam hari, saya memutuskan menggunakan sesi itu untuk menguji, apakah saya masih marah kepada orang tua saya? Saya membayangkan ibu saya, memutar kembali memori dari kecil hingga dewasa. Momen disayang, dimarahi, hingga momen yang melukai saya. Saya mengamati tubuh saya dan tidak ada reaksi apa pun. Tidak ada panas, tidak ada ketegangan, bahkan detak jantung terasa sangat tenang.
Dari situ saya sadar, ternyata saya sudah tidak marah. Rasa marah yang saya kira masih ada ternyata sudah selesai. Yang tersisa hanyalah residu pikiran.
Saya kemudian membayangkan ayah saya — hasilnya sama. Tidak ada reaksi negatif, hanya rasa hangat yang baik.
Ketika saya membayangkan kakak saya, yang muncul justru kesedihan, karena saya merasa ia tidak memiliki kesempatan yang sama untuk memproses traumanya. Saya melepaskannya dan menyerahkannya kepada Tuhan.
Ketika saya membayangkan anggota keluarga lainnya, yang muncul hanyalah rasa damai.
Saya menyadari bahwa Tapa Brata ini bukan hanya untuk menyembuhkan atau melepaskan trauma, tetapi juga untuk memeriksa apakah trauma itu masih ada.
Saya juga melihat banyak kesamaan antara family constellation dan ajaran Pak Merta, terutama tentang trauma yang diwariskan lintas generasi.
Untuk itu saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Bali Usada atas program yang sangat berdampak bagi hidup saya. Terima kasih kepada teman-teman atas pancaran cinta kasihnya. Saya juga ingin meminta maaf kepada suami saya. Dulu saya tidak percaya pada meditasi, sekarang saya yang memintanya.
Pelajaran terbesar bagi saya adalah hidup penuh dengan kebetulan yang menuntun kita. Jika kita belum menemukan jawabannya, bersabarlah — semuanya bisa berubah, tidak ada yang kekal. Tugas kita hanyalah mengalami, merasakan, dan ketika tiba waktunya untuk melepaskan, benar-benar melepaskan.
Terima kasih telah mendengarkan. Semoga bermanfaat, dan semoga semua hidup berbahagia.