Testimonials Regina

Satu Pertanyaan yang Membuatku Menangis Saat Meditasi

Nama saya Regina, saya berasal dari Surabaya. Saya mulai mengenal Bali Usada sekitar tahun lalu, karena salah satu senior di komunitas saya sering mengikuti program Bali Usada, mulai dari Tapa Brata 1, 2, hingga 3. Setiap selesai mengikuti program, beliau selalu bercerita dan membagikan pengalaman serta manfaat yang diperolehnya.

Beliau juga sering mendorong saya untuk ikut. Namun, ketika saya bertanya mengenai kegiatan di Bali Usada, saya mengetahui bahwa selama mengikuti Tapa Brata, peserta tidak diperbolehkan menggunakan handphone maupun berbicara.

Waktu itu saya mengatakan, “Kalau tidak berbicara, saya masih bisa. Tapi kalau tidak memegang handphone, rasanya tidak mungkin.” Hal itu karena pekerjaan saya mengharuskan saya untuk selalu bisa dihubungi oleh klien. 

Kemudian, pada akhir tahun 2025, saya memiliki seorang coach yang membimbing saya dalam belajar meditasi. Sebelumnya, saya sudah belajar meditasi dengan metode konsentrasi. Namun, sekitar bulan Oktober, coach saya mulai mengarahkan saya untuk mencoba cara yang berbeda, yaitu dengan memperhatikan napas masuk dan napas keluar.

Saya pun mulai berlatih. Namun, ternyata pikiran saya seperti monyet, terus bergerak ke sana kemari. Setiap kali mencoba memperhatikan napas, pikiran saya selalu berjalan ke mana-mana, kemudian kembali lagi.

Akhirnya, sekitar bulan Desember, saya mulai berpikir bahwa saya tidak bisa terus seperti ini. Saya ingin belajar meditasi dengan benar dan mendapatkan bimbingan yang lebih mendalam.

Saat itulah saya kembali teringat dengan Bali Usada yang sering diceritakan oleh teman saya. Saya melihat bahwa beliau mendapatkan begitu banyak manfaat dari latihan tersebut. Karena saya sangat percaya kepadanya, akhirnya pada Januari 2026, saya memutuskan untuk mengikuti Tapa Brata di Bali Usada.

Selain urusan pekerjaan dan klien, sebenarnya saya juga memiliki kemelekatan yang cukup besar terhadap anak saya. Saya sering merasa khawatir, bagaimana kalau nanti anak saya mencari saya ketika saya tidak bisa dihubungi?

Akhirnya, setelah mengambil keputusan untuk mengikuti Tapa Brata, saya mengajak anak saya berbicara. Saya menjelaskan bahwa saya akan pergi mengikuti sebuah program meditasi dan selama satu minggu tidak diperbolehkan menggunakan handphone.

Saya mengatakan kepadanya, “Mami mau pergi, ya. Tapi selama di sana Mami tidak bisa memegang handphone, jadi kita tidak bisa berkomunikasi selama satu minggu.”

Anak saya sempat terdiam sebentar. Namun, kemudian dia mengatakan, “Oke, Mami. Tidak apa-apa.”

Saya benar-benar terkejut mendengar jawabannya. Ternyata, dia bisa menerima keadaan tersebut dengan begitu mudahnya. Saat itu saya berpikir, kalau memang sudah jalannya, semuanya pasti akan terkondisi.

Sekitar bulan Maret, salah satu teman saya baru saja kembali dari Forest Island. Dia menceritakan pengalamannya mengikuti Tapa Brata, lalu saya mengatakan bahwa saya juga berencana ikut pada bulan April.

Teman saya langsung bertanya, “Kamu sudah daftar?”

Saya menjawab, “Belum.”

Dia mengatakan, “Cepat penuh, lho!”

Saya sempat tidak percaya. Namun, ketika saya mencoba mendaftar, ternyata benar, jadwal bulan April sudah penuh. Akhirnya, saya memutuskan untuk mendaftar pada bulan Mei. 

Kemudian, menjelang keberangkatan, ada beberapa hal yang mulai saya rasakan.

Sekitar satu minggu sebelum berangkat, tiba-tiba saya mengalami sesuatu yang rasanya seperti serangan panik atau panic attack. Ada bagian dalam diri saya yang merasa sangat tidak nyaman, meskipun saya sendiri tidak begitu memahami penyebabnya.

Saya mencoba menenangkan diri dengan mengatakan, “It’s okay, it’s okay.”

Kemudian, sekitar tiga hari sebelum keberangkatan, ada keluhan lama yang sudah cukup lama tidak kambuh, tetapi tiba-tiba muncul kembali. Saya mulai berpikir, sepertinya ada sesuatu yang sedang terjadi dalam diri saya. Meskipun demikian, saya tetap berangkat dan akhirnya tiba di Bali Usada. 

Sejak hari pertama dan kedua mengikuti latihan, saya mulai merasakan berbagai sensasi yang sangat kuat pada tubuh saya. Bagian ulu hati dan dada saya terasa sangat sakit. Ulu hati saya seperti diremas, sementara bagian dada terasa seperti ada beban berat yang terus menekan.

Saya sempat merasa bingung dengan apa yang sedang terjadi. Namun, saya mencoba untuk tetap mengikuti latihan.

Memasuki hari kedua, berbagai emosi negatif mulai bermunculan. Padahal, pada meditasi pertama, saya merasa cukup nyaman. Namun, setelah itu, tiba-tiba muncul berbagai perasaan yang tidak menyenangkan, termasuk keinginan untuk marah yang begitu kuat.

Saya sampai bertanya kepada Pak Martin, “Pak, apakah ini normal? Bukankah tujuan meditasi itu baik? Kenapa yang muncul dalam diri saya justru emosi-emosi negatif?”

Pak Martin kemudian menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang bisa terjadi dalam proses meditasi. Setelah mendapatkan penjelasan tersebut, saya memutuskan untuk terus menjalani latihan.

Selain emosi yang bermunculan, seluruh tubuh saya juga terasa sakit. Ada sensasi seperti sebuah lempengan yang mencengkram bagian punggung saya. Rasanya sangat mengganggu dan tidak nyaman.

Namun, saya tetap melanjutkan latihan hingga akhirnya pada hari keempat, ketika sesi meditasi penyembuhan pada siang hari, saya mengalami sesuatu yang sangat berkesan.

Sebelumnya, saya ingin sedikit bercerita mengenai hubungan saya dengan mama.

Ketika masih kecil, saya pernah mendengar bahwa sebenarnya mama saya menginginkan anak laki-laki. Kemudian, melalui beberapa sesi hipnoterapi yang pernah saya jalani, saya juga mendapatkan gambaran bahwa ketika mama sedang mengandung saya, seolah-olah kehadiran saya tidak sepenuhnya diinginkan.

Pengalaman dan pemahaman itulah yang selama ini membuat hubungan saya dengan mama terasa sangat intens. Hubungan kami sering kali penuh dengan pertentangan dan konflik.

Namun, ketika mengikuti sesi meditasi penyembuhan pada siang hari itu, tiba-tiba air mata saya mulai keluar. Dalam meditasi tersebut, saya seperti melihat sebuah titik hitam.

Dari titik hitam itu, tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan yang sangat dalam dari diri saya.

“Apakah mama saya pernah benar-benar mencintai saya dengan tulus?”

Pertanyaan itu sangat mengejutkan saya karena sebelumnya saya tidak pernah benar-benar memikirkannya secara sadar.

Namun, ketika pertanyaan tersebut muncul dalam proses meditasi penyembuhan, saya mulai menyadari bahwa mungkin selama ini ada sesuatu yang terus saya cari dalam hidup saya.

Kemudian, tiba-tiba saya mendapatkan sebuah gambaran yang seolah-olah menjadi jawaban atas pertanyaan tersebut.

Saya melihat diri saya ketika masih bayi. Dalam gambaran itu, saya melihat diri saya tersenyum dan mama saya juga tersenyum ketika melihat saya.

Pada saat itulah, untuk pertama kalinya, saya benar-benar merasakan bahwa mama saya mencintai saya dengan sangat tulus. Perasaan itu begitu kuat dan mendalam.

Air mata saya langsung mengalir begitu deras. Saya berusaha menahannya agar tidak sampai mengeluarkan suara karena saat itu kami masih menjalani tapa.

Seandainya tidak sedang dalam suasana tapa, mungkin saya sudah menangis meraung-raung.

Kemudian, saya juga merasakan sesuatu yang sangat berbeda pada bagian punggung saya. Sensasi mencengkeram yang sebelumnya sangat mengganggu tiba-tiba terasa seperti dialiri sesuatu yang menyerupai gel hangat.

Rasanya begitu hangat, nyaman, dan menyenangkan. Sensasi itu seperti mengalir di sepanjang punggung saya hingga membuat seluruh tubuh terasa sangat ringan.

Yang saya tahu, pada saat itu tubuh saya terasa sangat nyaman dan seperti ada sesuatu yang akhirnya terlepas dari dalam diri saya.

Setelah sesi meditasi tersebut selesai, saya berjalan keluar menuju kamar. Namun, langkah saya terasa begitu ringan, seolah-olah tubuh saya sedang melayang.

Sebelumnya, selama tiga malam saya mengalami kesulitan tidur. Namun, pada malam setelah pengalaman penyembuhan itu, akhirnya saya bisa tidur dengan sangat nyaman.

Bagi saya, itu merupakan pengalaman yang sangat indah.

It’s a very beautiful moment.

Saya merasa telah menemukan sesuatu yang selama ini saya cari. Saya benar-benar merasakan bahwa mama saya sangat mencintai saya.

Selain pengalaman dalam sesi penyembuhan, saya juga mendapatkan pengalaman yang luar biasa ketika meditasi cinta kasih.

Pada beberapa sesi awal meditasi cinta kasih, saya memang sudah merasakan tubuh menjadi lebih ringan. Namun, pengalaman yang paling berbeda justru muncul pada dua sesi meditasi menjelang buka tapa.

Ketika itu, saya mengikuti setiap arahan dan mengucapkan “semoga semua hidup berbahagia” dalam hati dengan sungguh-sungguh. Tubuh saya terasa begitu ringan, sampai-sampai saya seperti tidak lagi merasakan keberadaan tubuh saya sendiri.

Saya tahu bahwa saya sedang duduk bermeditasi, tetapi sensasi tubuh saya terasa begitu berbeda. Saya tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata betapa ringan dan nyamannya perasaan itu.

Ada perasaan yang begitu indah, begitu menyenangkan, dan sangat sulit untuk digambarkan.

Ketika saya berpamitan kepada teman saya untuk mengikuti retret meditasi, teman saya mengatakan, “Selamat bertemu dengan dirimu sendiri.”

Kemudian, ketika pertama kali datang ke Bali Usada, saya mendengar Pak Martin mengatakan bahwa mengikuti latihan ini merupakan hadiah terindah yang bisa kita berikan kepada diri sendiri. Pada sesi pertama, Pak Merta juga menyampaikan bahwa melalui latihan ini, kita sedang melakukan sebuah kebaikan untuk diri kita sendiri.

Ketiga pesan tersebut terus teringat dalam pikiran saya.

Ketika mengingatnya kembali setelah menjalani berbagai pengalaman meditasi, saya menjadi sangat terharu hingga menangis.

Saya sampai berpikir, “Selama ini saya ke mana saja?”

Selama ini saya merasa bahwa saya sudah cukup memperhatikan dan menyayangi diri sendiri. Namun, ternyata melalui pengalaman meditasi ini, saya menemukan sesuatu yang jauh lebih mendalam.

Bagi saya, inilah hadiah terbaik yang pernah saya berikan kepada diri sendiri.

This is the best gift I can give to myself.

Rasanya seperti saya sedang menikmati kebersamaan dengan diri sendiri.

I’m dating myself.

Perasaan itu seperti ketika kita pertama kali jatuh cinta atau menjalani kencan pertama dengan seseorang yang sangat kita sukai. Ada kebahagiaan, kehangatan, dan perasaan yang begitu indah.

Setelah melewati proses meditasi penyembuhan dan cinta kasih, saya benar-benar merasa sangat bersyukur karena akhirnya memutuskan untuk mengikuti Tapa Brata di Bali Usada. Setelah mengalami semuanya, saya merasa bahwa seluruh proses dan perjuangan tersebut benar-benar terbayarkan.

Ada satu hal yang paling mendalam yang saya rasakan setelah mengikuti proses penyembuhan dan meditasi cinta kasih.

I’m enough.

Saya merasa bahwa diri saya sudah cukup. Saya sudah memiliki cukup cinta dalam diri saya. Perasaan itu merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi saya.

Sebelum mengakhiri cerita ini, ada satu pengalaman lagi yang ingin saya bagikan.

Ketika sudah berada di sini, saya sempat mendapatkan informasi bahwa Pak Merta tidak akan datang.

Namun, dalam hati saya masih memiliki keinginan sederhana untuk bisa bertemu dengan Pak Merta.

Saya hanya membatin, “Semoga Pak Merta datang. Tidak harus hari ini, yang penting saya bisa bertemu dengan beliau.”

Dan ternyata, hari ini saya benar-benar mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan Pak Merta. Saya bahkan bisa bersalaman langsung dengan beliau.

Saya benar-benar bersyukur atas semua pengalaman, kesempatan, dan kebaikan yang saya terima selama berada di Bali Usada. Terima kasih.

Program & Class

Activity Schedule

Program & Class

Meditation Program