Testimonials dr. Prem Guray

Dari Overthinking Menuju Pikiran yang Lebih Tenang

Halo, salam kenal. Nama saya dr. Prem Guray. Jadi, saya ingin sedikit bercerita. Sebenarnya saya ini seorang overthinker. Secara profesi, saya banyak menghadapi pasien yang datang dengan berbagai keluhan. Kalau kita praktik enam atau tujuh jam, sekitar 80% dari pasien yang kita temui itu adalah anxiety.

Karena itu, mungkin kita terus-menerus dianggap tidak apa-apa dan dokter harus selalu terlihat sehat. Kita juga harus bisa memberikan kata-kata bijaksana dan lain-lain kepada pasien.

Sampai suatu hari saya merasa overthinking saya semakin berat. Lama-lama bisa mengarah pada kecemasan atau anxiety. Kecemasan saya terutama tentang masa depan, “ke depannya akan bagaimana?”

Sebagai seorang pebisnis, saya juga selalu memikirkan lima langkah ke depan. Jadi, lima langkah ke depan itu selalu ada di pikiran saya, apakah ini benar atau tidak? Akan sukses atau tidak? Bisa atau tidak ke depannya?

Semakin lama rasanya semakin berat.

Sebenarnya saya sudah lama mengenal meditasi. Hanya saja, kadang-kadang dalam seminggu belum tentu saya melakukannya satu kali. Dalam sebulan mungkin hanya dua kali. Dan meditasi yang saya lakukan ternyata berbeda sekali dengan yang diajarkan di sini.

Mungkin teman-teman millennial juga tahu, kadang kita bermeditasi sambil meminta, misalnya ingin sukses dan sebagainya. Meditasinya ambisius. Di sini saya baru mengetahui tentang memperhatikan napas, bahwa kita perlu tenang dan menyadari tubuh kita.

Jujur, saya tidak mempunyai penyakit. Terima kasih kepada Tuhan, saya tidak sakit. Tetapi ketika dijelaskan tentang penyembuhan, kebetulan pada hari itu saya memang agak sedikit sakit kepala di sisi sebelah kiri. Sejak bangun tidur kepala saya terasa sedikit sakit, walaupun bukan sakit yang berat.

Ketika hari itu diajarkan tentang penyembuhan, saya mencoba mempraktikkannya. Saya tes sendiri. Saya arahkan perhatian ke bagian tersebut. Saya arahkan lagi dan lagi. Lalu sembuh.

Kemudian saya sempat berpikir, “Wah, kalau ada hal seperti ini, kayaknya ada magic juga.”

Saya kemudian mencoba masuk lebih dalam dan mengarahkan perhatian ke tubuh saya. Saya mencoba masuk ke beberapa bagian tubuh, salah satunya otak. “Bisa tidak overthinking saya sembuh?” Ketika saya masuk, saya melihat seperti puting beliung. Saya sampai bingung, “Ini apa, ya? Kok puting beliung semuanya?”

Lalu saya kembali lagi ke cakra, napas, dan menyapu badan. Malamnya saya tidak bisa tidur. Semua pikiran saya keluar. Saya bingung dengan apa yang terjadi.

Tetapi satu atau dua hari sebelumnya, saat konsultasi, Pak Putu memberikan satu kalimat yang sangat baik. Kalimat itu saya pegang sampai sekarang dan mungkin juga akan saya pegang seterusnya.

Bahwa ketika sebuah pikiran muncul, biarkan saja pikiran itu seperti film. Kita cukup mengobservasinya. Kita melihat saja.

Misalnya ada sesuatu yang kita kurang suka. Pikiran itu muncul, kemudian mulai berbicara kepada kita. Tetapi kita jangan ikut masuk ke dalam film tersebut.

Karena otomatis otak kita bisa membuat sebuah cerita pendek. Pikiran memakai semua “library” yang kita punya untuk menyusun cerita itu. Biasanya kita terbiasa ingin ikut sebagai sutradara, maka dari itu bisa terbawa terus sampai overthinking dan akhirnya sulit tidur.

Tetapi sekarang saya belajar untuk tidak masuk ke dalam film itu. Saya biarkan satu film lewat. Kemudian kalau datang film yang lain, saya biarkan lagi film itu lewat.

Hal ini akan selalu saya ingat. Ini merupakan kesempatan yang sangat berarti buat saya.

Karena teman-teman, dalam kehidupan sehari-hari, yakinlah film-film itu pasti akan datang lagi. Ketika film itu datang, saya akan teringat pengalaman ini. Dan ini akan menjadi sebuah guidance bagi saya ke depannya.

Saya sendiri banyak sekali membaca buku. Saya memang lebih banyak belajar melalui buku.

Pertama kali saya pernah diberikan sebuah buku, judulnya The Secret karya Rhonda Byrne. Tetapi waktu itu saya tidak membacanya. Saya hanya menyimpannya di rumah.

Suatu hari saya mendengar seorang MC terkenal, Steve Harvey. Saya mendengar Steve Harvey mengatakan bahwa kita cukup membaca buku dari Norman Vincent Peale tentang positive thinking.

Saya kemudian membaca. Saya baca, baca, dan baca.

Jadi, apa yang disampaikan di sini sebenarnya benar. Kalau teman-teman tertarik, bisa mencari buku Norman Vincent Peale, mencari Joe Dispenza, Bob Proctor, dan banyak referensi lainnya.

Selama ini saya memang banyak membaca. Dan benar, semuanya selama ini hanya berhenti sebagai teori bagi saya.

Ketika mendengar penjelasan di sini, saya sering merasa, “Oh, ini pernah saya baca. Oh, ini pernah dibicarakan oleh orang ini. Oh, ini rangkumannya.”

Secara teori saya sudah tahu. Tetapi ternyata saya tidak pernah benar-benar melakukannya dalam hidup.

Nah, di sinilah saya mulai mengerti artinya.

Kalau nanti kita menghadapi sesuatu dalam kehidupan, kita bisa mengatur napas, mengatur tempo, tidak buru-buru berbicara kepada orang lain. Tenang, rileks, dan membiarkan sesuatu berjalan sebagaimana mestinya.

Saya rasa kalau kita bisa menjalani hidup seperti itu, hidup ini pasti akan jauh lebih bahagia.

Dan saya yakin semua teman-teman yang berada di tempat ini memang mempunyai alasan untuk berada di sini. Karena kalau memang tidak diizinkan oleh Tuhan, mungkin kita tidak akan sampai ke sini. 

Jadi mungkin dari saya itu saja. Saya sangat bersyukur. Terima kasih teman-teman semua. Saya harap teman-teman semua di sini sukses, maju, sehat.

Program & Class

Activity Schedule

Program & Class

Meditation Program