Sebenarnya, alasan saya ikut Tapa Brata ini agak berbeda. Dari dulu saya memang sudah suka yoga. Sudah sekitar 10 tahun saya mengenal yoga dan meditasi, tetapi biasanya lebih ke arah melatih fokus, mengatur napas, dan ya sudah, sebatas itu saja. Saya juga punya beberapa teman yang sering mengikuti Tapa Brata. Dari mereka, saya mendapat informasi bahwa ada meditasi yang bagus seperti ini.
Namun, hal yang membuat saya tertarik untuk mendalami meditasi secara lebih serius adalah ketika saya melihat seorang YouTuber yang sangat saya suka. Ia seorang psikiater, lulusan Harvard, berasal dari India, dan pernah belajar dari para biksu selama beberapa tahun. Ia juga pernah belajar yoga di ashram di India.
Dalam salah satu videonya, ia pernah mengatakan bahwa sebagai psikiater, ia memiliki intuisi yang sangat tajam. Misalnya, ketika seseorang datang dan masuk ke ruangannya, ia bisa langsung merasakan kira-kira orang ini sedang mengalami apa. Ia juga bisa memahami apa yang mungkin perlu dilakukan untuk membantu orang tersebut.
Saya lalu berpikir, “Wah, sebagai terapis, keren juga kalau saya bisa seperti itu.” Misalnya, ada orang datang ke ruangan saya, lalu tanpa perlu banyak bicara, saya bisa merasakan, “Kamu ini sedang mengalami ini, ya.” Rasanya menarik, seru, dan keren.
Namun selain rasa penasaran itu, ada hal lain yang akhirnya benar-benar mendorong saya untuk mengikuti Tapa Brata. Saya merasa dalam kehidupan sehari-hari saya mudah sekali capek. Setiap hari saya bertemu klien, mendengarkan cerita mereka, dan membantu mereka. Lama-lama saya merasa fisik saya mulai ikut terdampak. Saya jadi gampang lelah, gampang pusing, dan kadang setelah sesi terapi kepala saya terasa berdenyut-denyut. Saya juga merasa mudah sesak dan cepat kehabisan energi.
Karena itu, saya berpikir, kalau saya ingin membantu orang lain lebih lama dan lebih maksimal, saya juga perlu punya cara untuk mengisi ulang energi diri sendiri. Saya ikut Tapa Brata ini sebagai salah satu cara agar saya tidak terus-menerus merasa low battery setiap hari.
Selama berada di sini, ada tiga hal yang sangat membekas bagi saya.
Yang pertama terjadi saat saya mandi, sekitar hari keempat. Waktu itu saya sudah membawa handuk, baju, dan perlengkapan mandi. Saya membayangkan akan mandi dengan air hangat yang nyaman, supaya badan terasa segar.
Namun ketika saya membuka keran dan menyalakan shower, yang keluar justru air dingin. Saya menunggu sebentar, tetapi airnya tetap dingin. Saya mulai berpikir, “Kok nggak panas-panas? Kok dingin banget? Ih, menyebalkan sekali.”
Lalu tiba-tiba saya menyadari, “Lho, kok pikiran saya negatif sekali?” Saya merasa, “Gila, saya sudah belajar empat atau lima hari di sini, tapi pikiran negatif seperti ini masih muncul juga.”
Kemudian saya teringat ajaran Pak Merta Ada tentang Anicca, bahwa segala sesuatu berubah. Kemarin saya bisa mandi dengan air panas, sekarang airnya dingin. Keadaannya berbeda. Ketika saya mengingat Anicca itu, saya mulai merasa, “Oh, ternyata mandi dengan air dingin juga bisa enak, ya. Segar juga.”
Akhirnya saya bisa menikmati mandi itu. Saya tidak lagi stres atau merasa menderita hanya karena airnya dingin. Dari situ, Anicca menjadi salah satu hal yang sangat membekas bagi saya.
Hal kedua juga muncul dari momen yang sama. Saat saya menyadari pikiran negatif tadi, muncul suara dalam diri saya yang menghakimi, “Kamu sudah meditasi lima hari, kok masih negatif? Masa begitu saja langsung berpikir buruk? Masa begitu saja langsung merasa gagal?”
Tapi kemudian muncul suara lain dalam diri saya, seperti mengingatkan, “Eh, tapi jangan terlalu keras juga dong sama diri sendiri. Kalau memang salah, ya sudah, tidak perlu dimarahi seperti itu.”
Dari situ saya teringat bahwa dalam latihan ini, kita juga belajar untuk bersikap lebih lembut. Kalau ada kesalahan atau pikiran negatif yang muncul, tidak perlu langsung menghakimi diri sendiri dengan keras. Saya bisa mengingatkan diri dengan lebih lembut.
Saya akhirnya bisa berkata kepada diri sendiri, “Oke, tidak apa-apa. Saya memang tadi lupa untuk berpikir positif. Tapi tidak apa-apa, nanti bisa disadari lagi, lalu kembali lagi.”
Jadi hal kedua yang saya dapatkan adalah tentang kelembutan dan self-love. Saya belajar bahwa ketika ada sesuatu yang kurang baik dalam diri saya, saya tidak perlu langsung memarahi diri sendiri. Saya bisa mengingatkan diri dengan lebih lembut.
Hal ketiga terjadi ketika masuk hari kelima, saat mulai ada latihan cinta kasih. Di akhir-akhir latihan, ada arahan untuk memeditasikan cinta kasih kepada orang-orang yang membutuhkan. Lalu saya berpikir, “Kalau begitu, saya coba kirimkan cinta kasih kepada klien-klien saya sebelumnya.”
Saya membayangkan beberapa klien saya, lalu saya mengirimkan harapan baik untuk mereka. Semoga mereka sembuh, semoga mereka baik-baik saja, semoga mereka bisa hidup dengan nyaman, dan semoga mereka pulih dari masalah yang sedang mereka hadapi. Saya membayangkan wajah mereka satu per satu sambil memberikan cinta kasih.
Kemudian, pada hari terakhir, setelah kami boleh membuka handphone, saya membuka Instagram dan melihat ada DM dari salah satu klien saya. Ia pernah terapi dengan saya. Saat itu, masalahnya cukup berat. Tubuhnya juga ikut terasa sakit. Punggung dan lehernya pegal semua, tidurnya tidak nyenyak, dan selalu muncul kemarahan. Masih ada rasa benci dan luka yang kuat.
Lalu di DM itu, ia memberi kabar bahwa ia sudah mengalami banyak kemajuan. Ia tidak lagi terus-menerus marah. Yang paling membuat saya terharu adalah ketika ia mengatakan bahwa pundaknya sudah benar-benar lega. Sudah tidak sakit sama sekali.
Saya merasa sangat bersyukur membaca kabar itu. Saya membalas bahwa saya sangat senang mendengarnya. Lalu saya berpikir, sebelum terapi, ia sakit. Setelah itu, ia membaik. Sementara saya, sebelum ikut meditasi, saya tidak sakit. Namun ketika ikut latihan, justru muncul rasa sakit dan proses dalam diri saya.
Jadi itulah tiga hal yang saya dapatkan selama Tapa Brata: Anicca, kelembutan kepada diri sendiri, dan cinta kasih. Tiga hal ini sangat membekas bagi saya, dan saya merasa semuanya benar-benar bisa dipakai dalam kehidupan sehari-hari.