Testimonials Rosna

Saya Sangat Sensitif Terhadap Penolakan

Saya Rosna dari Jakarta. Saya sudah mengikuti Tapa Brata 1 sebanyak lima kali, dan Tapa Brata 2 sekali. Setiap kali saya ikut, selalu ada pengalaman yang sangat berkesan dan membuat saya terus bertumbuh.

Pernah ada peserta lain bertanya, “Kok ikut terus? Nggak bosan?” Tidak pernah bosan. Mendengar cerita cece dan titi yang disampaikan oleh Pak Merta, tetap saja saya menangis berurai air mata. Karena saat kita bermeditasi, perasaan kita menjadi begitu peka.

Kali ini, pengalaman saya berkaitan dengan masalah lama yang saya hadapi: saya mendengkur saat tidur. Dan ini cukup parah. Keluarga saya bahkan pernah berkata, “Ngorok kamu makin jadi aja.” Saya sudah periksa ke dokter, bahkan sudah beli alat bantu napas CPAP (biPAP), yang digunakan untuk tidur agar bernapas lewat hidung, bukan mulut. Tapi sampai sekarang alat itu belum pernah saya pakai. Rasanya ribet.

Beberapa kali ikut Tapa Brata sebelumnya, saya sempat mengalami kejadian yang membuat saya sadar bahwa suara dengkuran saya bisa mengganggu orang lain. Tapi setelah acara selesai, saya biasanya melupakannya. Namun kali ini berbeda.

Saya benar-benar mendapat pencerahan. Saya menyadari bahwa yang membuat saya merasa tersakiti bukan hanya karena saya mendengkur, tapi karena saya merasa ditolak saat Ibu Feni, teman sekamar saya memutuskan untuk pindah kamar. Saya sudah minta maaf. Syukurnya, kami sudah berdamai dan saling memahami.

Waktu itu, saya sempat menangis di malam hari. Tidak bisa tidur. Saya berpikir, “Ada yang salah dengan saya.” Ternyata bukan hanya soal dengkuran. Saya sangat sensitif terhadap penolakan. Dalam dunia kerja pun, kalau tim tidak menghargai pendapat saya atau tidak menganggap saya serius, saya merasa ditolak.

Saya sadar, ini adalah luka lama dari masa kecil. Dan disinilah meditasi membawa saya pada proses penyembuhan. Meskipun ini kali kelima saya ikut, baru kali ini saya benar-benar “dapat.” Saya duduk di ruang meditasi, mengikuti panduan: “Bayangkan peristiwanya, rasakan perasaan saat peristiwa itu terjadi. Lalu lupakan peristiwanya.”

Saya bayangkan lagi momen saat merasa ditolak. Rasa sakitnya seperti hati diremas, kepala panas, dada sesak, marah, kecewa, merasa tidak berharga. Saya biarkan semua perasaan itu muncul, saya amati, lalu berubah. Ada ruang di dalam. Ada jarak. Ada kebijaksanaan baru yang muncul.

Saya mulai berpikir, “Kalau kejadian seperti itu terulang lagi, bagaimana saya akan merespons?” Saya belajar untuk tidak lagi larut dalam rasa menjadi korban. Fokus pada masalahnya, yaitu ngorok dan cari solusinya, bukan pada keluhan orang lain. Gunakan logika, bukan emosi. Dan dari situ, rasa tertolak itu perlahan-lahan menghilang.

Waktu itu saya belum sempat mengucapkan langsung kepada Bu Feni karena masih noble silence, tapi dalam hati saya bilang maaf dan terima kasih. Karena kalau bukan karena kejadian itu, saya mungkin tidak akan masuk ke proses penyembuhan ini.

Terima kasih banyak untuk Bali Usada, Pak Merta, Pak Putu Dhana, Ibu Maria, dan semua teman-teman yang hadir. Ini adalah pengalaman paling berharga dalam hidup saya. Saya merasa menemukan kembali diri saya.

Program & Class

Activity Schedule

Program & Class

Meditation Program