Testimonials Agustina

Ketenangan Itu Nyata. Aku Menemukannya di Dalam Diri

Nama saya Agustina, asal Aceh, sekarang tinggal di Bali. Tiga tahun terakhir ini adalah yang terberat dalam hidup saya. Waktu ibu saya datang beberapa waktu lalu, saya bilang pada beliau bahwa saya sangat lelah dengan hidup. Sebenarnya itu titik terparah, saya mengalami depresi yang sangat berat selama tiga tahun terakhir ini.

Dua tahun lalu, pada 2023, saya kehilangan salah satu proyek terbesar dalam hidup saya. Itu menjadi pemicu. Saya tipe orang yang kalau sudah bekerja, sungguh-sungguh workaholic, melekat pada pekerjaan. Ketika pekerjaan itu hilang, kondisi saya menjadi tidak sehat, saya jatuh sakit, terlilit hutang, dan mengalami gangguan kesehatan yang parah. Dari yang biasa sangat aktif dan bekerja keras, tiba-tiba saya tidak bisa berfungsi seperti dulu. Kadang jalan harus ditopang suami atau ibu. Bagi saya itu adalah luka yang sangat dalam.

Saya kemudian bertemu psikiater dan mendapat banyak obat-obatan. Saya mengalami insomnia berhari-hari, juga akumulasi stres dan PTSD. Sering terjadi panic attack sehingga saya takut keluar rumah; saya merasa terancam bahkan ketika tidak ada bahaya nyata. Pikiran-pikiran tentang orang datang membunuh atau menghancurkan rumah terasa amat nyata di kepala saya. Saya tidak bisa berkonsentrasi bekerja, bergantung pada obat tiap hari, dan sangat takut ditinggal sendirian—tubuh saya gemetar bila ditinggal. Suami saya harus selalu menemani kemanapun saya pergi. Malam hari saya takut kegelapan; itu adalah situasi yang menyiksa selama tiga tahun ini. Saya pernah depresi sebelumnya, tapi tidak separah ini. Pernah sampai merasa tidak bisa bernapas, dan saya bilang pada ibu bahwa saya lelah sekali hidup.

Ibu saya berpegang pada keyakinan agama. Dia berkata ia tidak akan pernah bunuh diri karena percaya bunuh diri adalah dosa besar dan itu memberi saya pegangan. Beberapa bulan lalu saya ditelepon mentor saya. Saat video call, saya menangis. Mereka bilang, “Kamu harus sembuh. Ikutlah program Bali Usada. Bertemu dengan Pak Merta Ada. He is a legend. kita akan bantu biaya.” Mentor saya menawarkan untuk menanggung semua, termasuk biaya suami saya. Karena kondisi kami selama tiga tahun ini sangat porak-poranda, finansial dan fisik. 

Saat bertemu Pak Merta Ada (yang menurut mereka adalah sosok legend), saya pergi ke program itu bukan untuk mencari ketenaran—saya ingin menemukan sumber semua rasa sakit yang saya bawa. Meskipun saya sudah punya dugaan bahwa sumbernya berkaitan dengan ibu dan masa lalu, saya ingin memastikan. Dalam proses meditasi, saya diminta duduk, menutup mata, dan dicek oleh Pak Merta. Ia mengatakan hal-hal yang sangat tepat: ada masalah pada mata, pada kondisi mental, dan ada kemarahan yang besar yang terpendam — khususnya pada ibu saya.

Proses itu membawa semua memori lama naik ke permukaan. Ketika kecil saya dititipkan kepada nenek. Ibu saya meninggalkan saya waktu itu dan saya mengalami perlakuan keras selama bertahun-tahun: pukulan, dijambak, diikat. Pernah suatu ketika saya mengejar ibu, memohon agar jangan meninggalkan saya; ibu mendorong saya dan melemparkan batu. Saya tumbuh dengan perasaan tidak diinginkan, merasa dilawan oleh ibu sendiri. Selain kekerasan fisik, saya juga mengalami kekerasan verbal bertahun-tahun. Saya menangis setiap malam waktu kecil. Semua pengalaman itu membentuk trauma sangat dalam.

Seiring usia, saya berusaha berbaik hati kepada ibu, merawatnya saat sakit, membiayai hidupnya, tetapi jauh di dalam hati saya masih menyimpan kemarahan besar. Saya sulit memaafkan karena menganggap semua penderitaan saya bermula dari kejadian waktu itu. Ketakutan itu muncul setiap malam. Di awal pernikahan, saya sering terkejut pada suami seolah-olah dia orang asing. Sampai dia harus berulang kali mengatakan, “Hey, it’s me.” Saya takut ada orang yang menyentuh saya saat tidur. Semua pengalaman masa kecil itu masih membekas.

Saya mencoba bekerja keras berharap luka sembuh sendiri, tetapi prosesnya tidak gampang. Saat datang ke Bali Usada, pada hari pertama saya marah, bertanya pada diri sendiri, “Ngapain saya datang ke sini? Padahal sedang banyak pekerjaan.” Hari kedua saya merasa bosan. Dan pada hari ketiga seluruh tubuh saya terasa sakit di banyak tempat. Hari keempat, ada sesuatu yang saya rasakan. Saya menemukan kembali kebahagiaan terdalam yang sudah lama hilang. Selama ini kebahagiaan saya hanya di permukaan; kini saya merasakan kedamaian yang sangat dalam—sampai saya tersenyum dan tertawa sendiri sepanjang meditasi. Itu adalah sesuatu yang lama sekali hilang dari diri saya.

Kebahagiaan itu terasa seperti hadiah. Saya menyadari betapa banyak hal yang hilang dari diri saya tanpa saya sadari. Saya juga menyadari pola saya, ketika disakiti, saya cenderung menyalahkan diri dan bekerja habis-habisan untuk menebus atau menutupi rasa sakit. Dulu saya membangun sekolah di desa, mengajar anak-anak, tapi malah difitnah, rumah dihancurkan, dan diusir dari kampung. Semua penderitaan menimpakan luka yang terasa terlalu banyak untuk satu orang.

Namun saya melihat proses penyembuhan telah dimulai. Di Bali Usada saya tidak berharap semuanya selesai instan, ini adalah jalan penyembuhan jangka panjang. Pak Merta menitipkan pesan agar saya terus berlatih. Saya percaya pada proses, saya bekerja keras, setia dalam perjuangan. Sekarang saya berkomitmen untuk berhenti bergantung pada obat—saya ingin mencoba bertahan tanpa obat. Jika saya bisa bertahan, itu kabar baik. Saya ingin berjuang untuk hidup saya, menjadi orang yang lebih baik.

Program & Class

Activity Schedule

Program & Class

Meditation Program