Selama tiga tahun terakhir, saya tinggal di Makassar untuk menjalani pengobatan. Saya telah menjalani 13 kali kemoterapi, tetapi ternyata kanker saya menyebar. Awalnya hanya di satu bagian tubuh, namun kemudian menyebar ke sisi kanan. Selain itu, kista di ovarium saya semakin membesar, baik di sisi kanan maupun kiri.
Akhirnya, saya memutuskan untuk menghentikan kemoterapi. Salah satu alasannya adalah karena saya merasa tidak mengalami banyak kemajuan. Alasan lainnya adalah karena suami saya sudah tidak terdaftar di BPJS dan kami menghadapi keterbatasan biaya.
Saya kemudian mencoba metode pengobatan alami dengan mengkonsumsi berbagai jenis jus. Awalnya, berat badan saya hanya 44 Kg karena sakit. Setelah rutin minum jus, berat badan saya naik 12 Kg. Namun, ada kendala—saya jadi sulit bepergian karena harus menghabiskan banyak waktu untuk menyiapkan jus dan makanan. Saya minum jus empat kali sehari dan makan tiga kali sehari. Aktivitas ini menyita waktu, sehingga saya mulai merasa tidak bisa terus menjalani hidup dengan cara seperti ini.
Suatu hari, seorang teman merekomendasikan saya untuk mencoba meditasi di Bali Usada. Pertama kali saya ikut di Makassar, namun saat itu saya belum terlalu memahami manfaatnya. Meski begitu, saya tetap berlatih selama 90 hari, dua kali sehari. Perlahan, saya mulai membaca buku dan mengikuti latihan di Zoom serta YouTube. Saya mulai memahami esensi dari latihan ini.
Kemudian, saya memutuskan untuk bertemu Pak Merta di Bali untuk berkonsultasi apakah saya bisa berhenti minum jus tanpa membahayakan kesehatan saya. Saya pernah mencoba berhenti, tetapi saya malah mengalami batuk darah, sehingga saya menjadi takut untuk berhenti. Saya merasa bahwa mengikuti pola makan ini membuat saya kehilangan kebebasan untuk bergerak. Namun, setelah menjalani meditasi, saya mulai merasakan perubahan dalam tubuh dan pikiran saya.
Dulu, saya berpikir bahwa kebahagiaan hanya bisa saya rasakan jika saya sembuh, sehat, atau bisa bepergian ke tempat-tempat yang saya inginkan. Namun, setelah mengikuti meditasi, saya mulai lebih mensyukuri hidup. Saya merasa bahagia hanya dengan bisa menemani anak saya ke sekolah atau sekadar menghabiskan waktu bersamanya.
Saya juga menyadari perubahan dalam cara saya memperlakukan makhluk hidup. Saya memang sejak dulu menyayangi binatang, meskipun saya tidak memiliki hewan peliharaan sendiri. Saya senang memberi makan anjing atau kucing liar, bahkan merawat luka mereka jika memungkinkan. Namun, dulu saya tidak suka semut karena kulit saya sensitif dan jika digigit semut, bekasnya akan bertahan lama. Setelah bermeditasi, saya menyadari bahwa semut juga merasakan sakit. Sekarang, jika ada semut di tubuh saya, saya mengangkatnya dengan lembut dan memindahkannya ke tempat lain, bukan lagi langsung membunuhnya.
Selain perubahan dalam pola pikir, saya juga mengalami perubahan fisik. Penciuman saya menjadi lebih sensitif. Saya bisa membedakan aroma sabun yang digunakan teman-teman saya, bahkan bisa mencium bau asap dari kejauhan. Namun, terkadang ini menjadi terlalu berlebihan. Saya bahkan bisa mencium bau tidak sedap seperti kotoran hewan atau ingus ketika seseorang bersin, yang membuat saya merasa tidak nyaman.
Saya juga mengalami reaksi yang kuat terhadap wewangian tertentu. Misalnya, jika ada teman yang memakai lotion di tangan, saya merasa baunya sangat menyengat dan harus menutup hidung saya untuk menguranginya. Saya meminta saran dari Instruktur Bali Usada, Ibu Yasinta dan Beliau menyarankan saya untuk memancarkan cinta kasih, semoga semua hidup berbahagia. Setelah melakukannya, dalam dua hingga tiga hari, sensitivitasnya berkurang sedikit.
Selama menjalani meditasi, saya mulai merasa lebih nyaman dengan tubuh saya. Saya memutuskan untuk melepas ketergantungan pada jus. Saat pulang ke rumah, saya tetap bermeditasi dua kali sehari, tetapi terkadang terganggu oleh media sosial atau hal-hal negatif di sekitar saya. Ada saat-saat ketika saya merasa sangat lemah, bahkan tidak bisa bangun dari tempat tidur selama dua hari. Wajah saya pucat dan tubuh saya terasa sakit. Saya bingung harus bagaimana.
Akhirnya, saya mencoba bermeditasi cinta kasih selama satu jam. Setelah itu, saya merasa jauh lebih baik. Demikianlah perjalanan saya sejauh ini. Saya sangat senang berada di sini. Terima kasih.